Ahok: Saya Tak Ada Bakat Kampanye Apalagi Pencitraan

Gloria Safira Taylor, CNN Indonesia | Senin, 31/10/2016 19:41 WIB
Ahok: Saya Tak Ada Bakat Kampanye Apalagi Pencitraan Ahok menyambangi daerah pintu air di Setu Babakan, Jakata Selatan, Senin, 31 Oktober 2016, untuk bersilaturahmi dengan warga. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengklaim kunjungan kepada warga yang dilakukannya Senin ini (31/10) bukan sebagai ajang kampanye. Gubernur nonaktif Jakarta itu menyebutnya untuk evaluasi Pemerintah Provinsi DKI sejak 2012.

Menurut Ahok kunjungan itu didasari oleh pengaduan sejumlah warga karena masih menjadi wilayah terdampak banjir. "Saya fokus kerja saja, saya tidak ada bakat untuk kampanye apalagi pencitraan. Ini evaluasi saja sudah empat tahun saya cek kerjaan seperti apa, saya kan sampai Oktober 2017," kata Ahok di Ciganjur, Jakarta Selatan, Senin (31/10).

Ahok yang mengunjungi Kelurahan Kebagusan, Jagakarsa, Ciganjur, dan Srengseng Sawah mengatakan pihaknya sebagai petahana tidak perlu lagi melakukan kampanye. Hal ini karena dilihat pada kerja nyata yang ia lakukan selama menjabat sebagai gubernur.


Meski demikian, Ahok mengatakan, dibutuhkan waktu dua periode untuk mewujudkan programnya memperbaiki Jakarta. Maka itu, ia bersama pasangannya Djarot Saiful Hidayat mencalonkan diri menjadi cagub cawagub.

"Kenapa saya mau nyalon lagi, karena saya yakin kalau cuma sampai Oktober 2017. ‘Ini Jakartanya’ masih kurang kenceng ngomongnya. Kalau sampai lima tahun lagi ‘Ini Baru Jakarta’,” ujarnya kemudian disertai tawa.

Warga yang ditemui Ahok mengeluhkan soal banjir. Hal ini karena kurangnya daerah resapan air di pemukiman padat. Menurut warga, banjir yang menghadang pemukiman mereka setinggi lutut orang dewasa sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

Beli Lahan Kosong

Saat mendengar keluhan warga, diketahui bahwa banjir tersebut berasal dari pintu air di Setu Babakan. Air yang berasal dari Setu Babakan akhirnya menjalar hingga ke wilayah Kelurahan Jagakarsa, Kelurahan Ciganjur, dan Kelurahan Kebagusan.

Ahok mengatakan, solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi banjir adalah dengan membeli lahan kosong untuk dijadikan kawasan serapan air.

Saat kunjungannya ke Kelurahan Jagakarsa itu, Ahok mendapati satu lahan kosong yang sudah disiapkan oleh pemiliknya sebagai lahan serapan dan sumur. Namun, menurut Ahok, sumur tersebut perlu digali lebih dalam hingga kurang lebih 20 meter.

Pemilik tanah, Aditia Cahya (27) mengaku bersedia untuk menjualnya kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk membantu masyarakat agar tidak lagi mengalami banjir.

"Bersedia untuk jual tidak?” kata Ahok.

"Kalau dijual sih mau saja. Ayah saya beli tanah ini memang buat menampung banjir karena tempat ini lebih rendah dari yang lain," kata Aditia.

Dari hasil tinjauan Ahok ke empat kelurahan tersebut, ia mengatakan, solusinya hanya dengan membuat embung. Hal ini juga akan segera diproses meskipun sedang menjalani masa cuti kampanye.

Menurut Ahok, genangan tidak boleh terjadi di Jakarta. Hal ini karena akan berdampak pada kawasan lainnya.

"Saya kan cuti ini terpaksa, saya justru inginnya kerja. Namun karena cuti, saya gunakan untuk evaluasi kerja," ucapnya.

Menolak Ahok

Tak lama setelah ia meninjau Kelurahan Srengseng Sawah untuk mengecek lokasi longsor, terdapat tiga orang yang membawa spanduk dengan pernyataan menolak Ahok. Penolakan tersebut terkait dengan dugaan perkara penistaan agama.

Dengan menggunakan pengeras suara, salah seorang pendemo, Suhada, berkata," Kami warga Srengseng Sawah menyatakan menolak menerima pelaku penistaan agama di tanah kami."

Meskipun aksi itu bertepatan dengan keluarnya Ahok dari dalam Gang Gardu, Ahok hanya berjalan santai menuju mobilnya.

Tak hanya Ahok yang dicecar, namun beberapa media yang hendak mewawancarai juga sempat dicaci oleh Suhada. Aksi tersebut berlangsung sekitar 15 menit.

Mancing Lele

Aksi blusukan Ahok diselipi dengan aksi isengnya kepada seorang warga yang tengah memancing.

Setelah menanggapi permintaan foto bersama warga, Ahok berjalan menuruni tangga untuk menghampiri Tohap (45) di lokasi pemancingan.

"Saya coba pegang sebentar," kata Ahok seraya berjalan menuju ke arah Tohap di Setu Babakan.

Tohap yang sedang memancing langsung berdiri dan memberikan alat pancingnya pada Ahok dengan tertawa. Aksi itu pun mengundang tawa sejumlah pemancing lainnya di pemancingan Betawi Ngoempoel.

Pemancingan ini diketahui sebagai pemancingan ikan lele jumbo. Biasanya warga hadir ke lokasi ini sekitar pukul 14.00 WIB hingga 17.00 WIB.

"Dia hoki, dia hoki," teriak Ahok sambil menunjuk Tohap.

Tak berlangsung lama, Ahok menyerahkan kembali alat pancingnya kepada Tohap. Ia melanjutkan kegiatan foto bersama warga.

"Ayo Pak, nanti (saya) kecemplung lagi," ucapnya disertai tertawa.

Beli Buah

Aksi spontan Ahok tak terjadi hanya di pemancingan Betawi Ngoempoel. Saat berada di Gang Haji Ami, Jagakarsa, Ahok sempat menyempatkan diri untuk membeli buah rujak di pedagang buah keliling.

Penjual buah, Tam, memang sedang mangkal di gang tersebut untuk menarik pembeli. Tanpa disangka, Ahok yang sedang meninjau lokasi terdampak banjir pun terpancing untuk membeli sepotong semangka.

Matahari memang bersinar terik kala itu. Keringat pun bercucuran di pelipisnya. Tanpa ragu, Ahok melahap sepotong semangka di hadapan warga. Warga pun tertawa melihatnya.

Tak hanya untuk dirinya, ia juga membeli buah-buahan untuk sejumlah awak media, ajudan, dan warga yang mengikutinya.

"Tadi Pak Ahok membayar Rp500 ribu," kata Tam.


(obs/obs)