Foto ilustrasi Aang Pernama.
CNN Indonesia / Basith Subastian
Aang Permana: Keterbatasan yang Melahirkan Lingkaran Kebaikan
Entah apa jadinya hidup saya tanpa kehadiran ayah dan ibu.
Saya adalah Aang Permana, owner Crispy Ikan Sipetek dan mentor bisnis UMKM. Saya lahir dan dibesarkan di keluarga yang sangat sederhana dan akrab dengan keterbatasan. Saya anak pertama dari dua bersaudara. Orang tua kami selalu menanamkan nilai kerja keras.
Ayah saya buruh pabrik, sedangkan Ibu berdagang keliling, kadang jual rujak, kadang gorengan. Mereka berdua adalah guru pertama saya tentang arti perjuangan.
“Kalau mau keluar dari kondisi sulit ini, kamu harus jadi orang pintar,” kata Ibu saya.
Kalimat sederhana itu terpatri di benak saya hingga kini.
Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) adalah kunci agar saya bisa sekolah. Hampir di setiap jenjang pendidikan, saya pakai beasiswa yang butuh SKTM sebagai syarat wajibnya. Tak jarang pula tetangga mengepalkan tangan saya uang jajan.
Saat beranjak dewasa, saya sadar saya bisa menapak setiap titian berkat bantuan orang lain. Tanpa orang tua dan orang lain, saya mungkin tak akan bisa ada di titik ini. Karena itu, prinsip saya sejak dulu adalah hidup harus bermanfaat untuk masyarakat, sebagaimana dulu saya banyak dibantu orang.
Setelah lulus SMP, saya nyaris berpikir untuk berhenti sekolah. Saya bingung dan berpikir: “Uang dari mana saya supaya bisa lanjut ke SMA?”
Namun kemudian, saya mendapat kabar Pemerintah Provinsi Jawa Barat membuka sekolah gratis di Bandung. Seluruh biaya pendidikan dan kehidupan di Kota Kembang ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah setempat.
Saya mencoba peruntungan. Saya mendaftar meski berasal dari Subang.
Saya diterima, dan sejak kelas satu SMA saya resmi hidup jauh dari orang tua. Hidup di asrama membuat saya belajar tangguh dan mandiri. Tidak ada lagi orang tua yang menyiapkan sarapan, tidak ada yang menegur kalau saya malas belajar. Apa-apa harus sendiri. Namun di sana saya melihat dunia dengan perspektif yang lebih luas.
(Foto. Dok Pribadi)
Namanya sekolah gratis, kebanyakan teman saya di sana itu juga berasal dari keluarga tidak mampu. Ada yang yatim, piatu, bahkan keduanya. Tapi yang membuat saya kagum, semua punya semangat luar biasa untuk mengubah hidup lewat pendidikan. Kami sama-sama berjuang untuk membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk berprestasi.
Begitu tamat SMA, orang tua berharap saya langsung bekerja supaya bisa membantu ekonomi keluarga. Tapi saya masih ingin belajar, saya ingin kuliah. Meski tidak tahu bagaimana cara membayarnya, saya tetap mendaftar ke perguruan tinggi.
Saya kemudian diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB). Tentu hal pertama yang saya cari adalah beasiswa untuk memenuhi biaya kuliah. Selain itu, saya juga mulai berjualan pisang molen, donat, dan camilan kecil demi menopang kehidupan.
Ketika mahasiswa lain sibuk nongkrong di kafe, saya sibuk menghitung modal dan laba kecil dari jualan. Tapi di balik semua itu, saya merasa bangga. Karena dari tangan sendiri, saya bisa tetap kuliah tanpa merepotkan orang tua.
Djarum Beasiswa Plus, Jalan Hidup Saya
Saat saya kuliah, arus informasi berkutat di televisi, koran, atau mulut ke mulut. Satu hari saya mendengar program yang banyak dibicarakan mahasiswa di kampus: Djarum Beasiswa Plus.
Semua bilang, seleksinya ketat dan hanya segelintir orang yang bisa lolos. Awalnya saya minder. Saya pikir, “Saya ini siapa? Anak kampung, ekonomi pas-pasan. Mana mungkin bisa lolos?”
Tapi hati kecil saya bilang, “Coba saja!”
Akhirnya saya ikut seleksi. Prosesnya begitu panjang dan melelahkan, tapi saya jalani dengan tekad kuat. Dan ketika pengumuman datang, saya sempat tidak percaya menjadi salah satu dari 10 penerima beasiswa tersebut. Itu momen luar biasa dalam hidup saya. Saya menjadi Beswan Djarum.
Beasiswa Djarum bukan seperti program yang biasa saya terima sebelumnya. Jika sebelumnya saya dibantu karena faktor ekonomi, kali ini yang dinilai adalah prestasi, karakter, dan kontribusi terhadap masyarakat.
Melalui Djarum Beasiswa Plus, saya belajar arti sebenarnya dari keunggulan. Bukan hanya soal nilai, tapi juga tekad kuat untuk memberi dampak. Saya mungkin hanya segelintir orang yang punya latar belakang kurang mampu secara ekonomi.
(Foto. Dok Pribadi)
Saat kali pertama bergabung sebagai Beswan Djarum, saya sempat canggung. Saya bertemu orang-orang dari berbagai universitas ternama, dengan keluarga yang jauh lebih mapan. Tapi di lingkungan itu, tidak ada yang merasa lebih tinggi atau rendah. Semua saling menguatkan. Kami diajak mengikuti berbagai pelatihan dari kepemimpinan, kemampuan komunikasi, dan pembentukan karakter.
Saya ingat betul, salah satu pelatih meminta kami berbicara di depan publik. Padahal saya tipe mahasiswa yang malu bertanya di kelas. Tapi di sana saya belajar untuk tidak takut. Saya sadar, semua orang belajar dari nol, tidak ada yang sempurna.
Perlahan, saya berubah. Saya jadi berani tampil, memimpin, dan menyampaikan ide. Nilai-nilai yang ditanamkan di Djarum Beasiswa Plus membuat saya tumbuh sebagai pribadi yang percaya diri. Dari situ pula saya berani menantang diri untuk ikut lomba di Amerika Serikat selama dua bulan untuk mendalami bidang sumber daya perairan.
Kembali ke Desa, Berdampak untuk Warga
Setelah lulus, saya sempat bekerja di salah satu perusahaan migas di Jakarta. Gajinya bagus, kariernya jelas. Ya, idaman orang tua lah.
Di tengah-tengah pekerjaan saya berkesempatan keliling Nusantara, terutama di daerah pedalaman untuk melihat kondisi di sekitar pengeboran minyak. Tapi di sana pula, terkenang wajah-wajah orang yang dulu membantu saya sekolah, para tetangga yang memberi uang saku, dan guru-guru yang percaya kepada diri saya.
Kenyamanan yang saya dapat dari karier itu membuat saya berpikir: Apakah hidup untuk mengejar kenyamanan sendiri? Seperti ada lubang di dalam hati saya. Serasa ada yang kurang.
Akhirnya saya mengambil keputusan besar dalam hidup untuk pulang kampung. Mungkin ini pilihan gila karena saya meninggalkan zona nyaman dan mulai dari nol. Tapi bagi saya, ini bukan tentang jabatan, bukan pula soal gaji besar.
Dari pengalaman kerja keliling Indonesia, saya melihat banyak potensi di daerah yang belum maksimal. Termasuk Waduk Cirata di Cianjur yang banyak ikan air tawar bernama pepetek. Ikan ini sebelumnya dibuang nelayan karena punya bau amis.
(Foto. Dok Pribadi)
Tapi saya berpikir, bisa saja ikan ini terasa enak jika diolah dengan baik. Berbekal ilmu perikanan itulah, saya coba goreng ikan tersebut, memberi bumbu, dan menjual di warung-warung. Tentu saja, awalnya tidak laku.
Karena, ya, predikat amis yang melekat terhadap ikan itu. Apa saya menyerah? Tidak. Saya berupaya memanfaatkan media sosial untuk mengikis stigma ikan ini. Lahirlah, Sipetek sebagai mereknya.
Nama produk yang diingat orang, rasa yang enak, dan kemasan praktis jadi poin plus. Sedikit demi sedikit pembeli bertumbuh. Reseller juga mulai tertarik menjual produk ini, hingga kini tercatat ada 40 mitra yang bekerja sama.
Membangun relasi terhadap mitra adalah realisasi dari Djarum Beasiswa Plus. Saya mempraktekkan tanggung jawab dari keputusan yang diambil. Orang-orang yang terbuka jalannya berkat Sipetek adalah alasan saya ingin terus bergerak maju. Dari kampung kecil di Cianjur saya ingin terus menebar manfaat baik dengan langkah kecil di setiap harinya.