Foto ilustrasi Abdur Arsyad.
CNN Indonesia / Basith Subastian
Perjalanan Abdur Arsyad dari Timur, Cari Angka Ketemu Tawa
Lahir dan tumbuh di timur Indonesia bukan hal mudah, bahkan untuk mengakses hal dasar seperti pendidikan.
Namun, keluarga yang sangat peduli pada pendidikan jadi motor perjuangan saya dalam meniti ilmu.
Saya Abdur Arsyad, saya mungkin lebih dikenal sebagai seorang komika atau komedian. Namun, perjalanan karir saya bermula dari bidang pendidikan.
Ibu saya seorang guru Bahasa Indonesia, sementara ayah saya bekerja di Dinas Pendidikan. Latar belakang orang tua membuat saya cukup dekat dengan dunia pendidikan.
Saya menghabiskan masa kecil hingga remaja di dua kota, Kupang dan tempat kelahiran saya, Larantuka.
Sebagai ibu kota provinsi Nusa Tenggara Timur, saya menganggap Kupang cukup maju di masa itu, meski tidak bisa dibandingkan dengan Pulau Jawa.
Salah satu tempat favorit saya di kota ini adalah perpustakaan daerah, tempat yang tidak bisa saya temukan di Larantuka.
Kebetulan perpustakaan tersebut dekat dengan rumah kakek dan nenek saya di Kupang.
Kondisi ekonomi saat itu tidak memungkinkan saya untuk membeli buku-buku, sehingga perpustakaan menjadi solusi hasrat membaca saya. Terkadang, saya juga meminjam buku beberapa teman.
Dari timur Indonesia ke timur Jawa
Pada 2006, selepas bangku SMA, saya akhirnya meninggalkan Indonesia timur untuk mencari ilmu ke tanah Jawa bagian timur.
Jurusan Pendidikan Matematika di Universitas Muhammadiyah Malang jadi tempat berlabuh saya selama beberapa tahun.
Sebelum memilih tempat berkuliah, kedua orang tua saya menyarankan untuk menjadi guru. Hal ini tentu karena mereka dekat dengan dunia tersebut.
Mereka membebaskan pemilihan jurusan sepenuhnya kepada saya, dan akhirnya saya memilih matematika.
(Foto. Dok Pribadi)
Kenapa matematika? Karena ini jurusan di mana saya memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Saya cukup menonjol pada mata pelajaran ini sejak bangku sekolah dasar.
Terbayang dunia kuliah yang akan berat di perantauan dan jauh dengan keluarga, saya memilih bidang yang paling saya kuasai.
"Kalau ambil jurusan yang saya enggak tahu, terus enggak ada yang nyuruh belajar, malah kacau nanti kuliah," pikir saya.
Sejak masuk kuliah, saya selalu mencari beasiswa untuk tambahan menopang kehidupan di kampus.
Ketika perkuliahan memasuki tahun ketiga, saya bertemu dengan Djarum Beasiswa Plus. Awalnya, informasi tentang beasiswa ini terpampang di papan pengumuman Gedung Student Center.
Bukan hanya Djarum Beasiswa Plus, saya mendaftar beberapa beasiswa lain secara bersamaan. Namun, Djarum Beasiswa Plus yang paling awal melakukan tes dan mengumumkan hasilnya.
Bukan hanya menyuntikkan dana untuk menopang kehidupan perkuliahan, Djarum Beasiswa Plus juga memberikan banyak hal lain.
Bekal uang beasiswa habis di tahun tersebut, tetapi hal-hal lain yang mereka berikan tidak habis sampai sekarang.
Jejaring adalah manfaat yang saya sangat rasakan dari keterlibatan sebagai Beswan Djarum. Mereka membimbing untuk berkomunitas dan berorganisasi, yang membuat kami, alumni-alumninya, terhubung hingga saat ini.
Saya bahkan kini membuat bisnis travel umrah Rih.lab bersama beberapa teman alumni Beswan Djarum.
(Foto. Dok Pribadi)
Selain jejaring, Djarum Beasiswa Plus juga memberi bekal yang sangat berguna untuk karir saya sekarang, yaitu public speaking. Skill yang diasah di kampus untuk mencetak saya menjadi guru dipertajam di sini.
Pertemuan dengan berbagai macam orang, mulai dari peserta hingga pembicara level nasional, membentuk mental saya untuk berbicara dan berargumen di publik.
Empat tahun masa kuliah berlalu, hasrat untuk menuntut ilmu masih menggebu. Saya lantas melanjutkan magister Pendidikan Matematika di Universitas Negeri Malang.
Di sela perkuliahan, saya juga menjadi guru honorer di beberapa sekolah di Kota Malang.
Masa S1 membuat saya terbiasa penuh kesibukan, mulai dari organisasi, aktivitas beasiswa, dan beragam kegiatan lainnya. Alhasil, aktivitas perkuliahan dan mengajar yang saya lakoni di masa S2 terasa kurang.
Di sini saya mulai menemukan stand up comedy, yang banyak mengisi waktu malam hari saya. Awalnya, tentu saja saya tidak lucu.
Untuk yang belum familiar, stand up comedy adalah seni pertunjukan di mana seorang pelawak atau komika, membawakan materi lawakan secara monolog di atas panggung.
Waktu luang berubah menjadi ketekunan untuk belajar dan mendalami seni ini. Dalam proses tersebut, saya bergabung dengan komunitas Stand Up Indo Malang.
Komunitas ini yang akhirnya membawa saya ke panggung audisi SUCI, salah satu kompetisi terbesar untuk skena stand up comedy di Indonesia.
Kami beramai-ramai mengikuti audisi tersebut pada 2013, tetapi saya gugur di tahun tersebut. Percobaan kedua berbuah hasil, dan saya mendapat golden ticket untuk berlomba di Jakarta.
Tidak terbayang bahwa tiket ini akan menjadi awal mula lompatan karier saya. Kala itu, saya hanya menganggap stand up comedy sebagai hobi dan kegiatan di sela kuliah.
Dan masa depan versi saya saat itu adalah pulang ke kampung dan mengajar di sana.
Berhasil mendapatkan posisi juara kedua di kompetisi tersebut, berbagai tawaran pekerjaan datang.
Saya tidak menyangka hobi yang sekadar mengisi waktu luang ini ternyata bisa untuk hidup. Jadwal pekerjaan yang padat bahkan membuat S2 saya agak molor, karena harus sering bolak-balik Jakarta-Malang.
Ketika lulus kuliah, saya berbicara dengan ibu dan bapak terkait jalan karier ini. Mereka yang semula mendukung saya menjadi guru, kini mendukung saya di jalan yang baru.
(Foto. Dok Pribadi)
Dua pekerjaan ini memiliki kesamaan, yakni sama-sama memerlukan saya berbicara di depan banyak orang. Bedanya, pekerjaan yang pertama mencari angka-angka, sementara yang kedua mencari tawa.
Selain itu, perbedaannya lainnya adalah skala atau jumlah orang. Di sekolah, pelajaran matematika bersama saya tidak selalu serius, dan terkadang canda terlontar untuk mencairkan suasana.
Membuat anak-anak yang sudah saya kenal tertawa relatif lebih mudah dibandingkan membuat ratusan hingga ribuan orang asing tertawa. Namun, candaan-candaan tersebut jadi salah satu modal saya dalam berkomedi.
Setelah sekitar 10 tahun berkarier sebagai komika, saya menemukan tantangan terbesar di jalan yang saya pilih, yakni tuntutan untuk terus berkarya.
Karya-karya ini yang menjadi nyawa dan menjaga eksistensi di industri, di tengah banyaknya komika baru yang muncul.
Ketika bicara tentang komika, salah satu yang sangat lekat adalah persona. Namun, saya tidak punya hal itu.
Saya cenderung membahas apa yang sedang saya pikirkan dan ada di sekitar saya. Misalnya, special show kedua berjudul Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang membahas guru dan pendidikan, yang dekat dengan hidup saya.
Kemudian, show berikutnya berjudul Black Camping yang membahas politik karena bertepatan dengan pemilu. Lalu, special show terakhir yang berjudul Kontras atau Konten Transportasi yang membahas transportasi umum di Indonesia.
Selain stand up, saya juga menuangkan karya dalam bentuk-bentuk lain, seperti bermain film, menulis skrip, hingga podcast.
Meski saya tidak lagi mendidik dari ruang-ruang kelas, saya harap apa yang saya lakukan sekarang bisa memberikan dampak yang serupa.
Saya juga berharap dunia pendidikan Indonesia bisa lebih baik dan banyak masyarakat negeri ini yang bisa mengecap pendidikan tinggi.
Pendidikan tinggi ini nantinya akan berdampak pada kualitas demokrasi Indonesia. Dengan bermodalkan pendidikan, setiap warga negara bisa memiliki analisa lebih tajam terhadap pilihan politiknya kelak.
"Selama pendidikan kita belum rata, demokrasi kita akan pincang."