"Kurangnya kesiapsiagaan masyarakat di kawasan rawan bencana (pesisir) menjadi salah satu penyebab banyaknya korban jiwa," ujar Susi di acara International Seminar on The 10 Years Commemoration of The 2004 Indian Ocean Tsunami di Hotel Borobudur Jakarta, Senin (24/11).
Menurut Susi, besarnya jumlah korban jiwa tsunami di Aceh juga akibat tidak adanya sistem peringatan dini tsunami dan tidak adanya sarana dan prasarana evakuasi di kawasan rawan bencana.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Susi menjelaskan, permasalahan kapasitas sumber daya manusia yang terkait dengan penanganan bencana baik di level nasional ataupun di daerah menjadi salah satu faktor yang membuat akselerasi peningkatan kesiapsiagaan menjadi terhambat.
Dia menambahkan, sudah seharusnya Indonesia bisa belajar dari pengalaman tersebut. Satu hal yang perlu dimaknai dengan cermat adalah kesiapsiagaan merupakan fungsi dari kondisi psikologis dan pengetahuan yang dapat berubah seiring waktu.
“Di Jepang, untuk mempertahankan tingkat kesiapsiagaan yang baik, pemerintah melaksanakan kegiatan kuliah umum untuk masyarakat, serta melakukan pelatihan evakuasi tingkat komunitas atau desa," katanya.
Selain itu, Susi mengatakan pemerintah juga akan meningkatkan kapasitas aparatur pemerintah yang terkait dengan urusan kebencanaan baik di tingkat nasional maupun daerah dengan jalan pelatihan yang kontinyu dan menjembatani interaksi antara peneliti dengan masyarakat dan aparatur pemerintah melalui kegiatan seminar.
Lihat juga:Infrastruktur Peringatan Dini Tsunami Minim |