Resep pertama, kata Ahok, tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Dalam ajaran itu, tambahnya, diajarkan untuk tidak boleh ada diskriminasi dalam pendidikan. “Prinsipnya mengajarkan tidak ada budaya pengotakan. Namanya konfusius," ucap Ahok. Dengan latar belakang itu, ia lantas menggagas program Kartu Jakarta Pintar (KJP).
Resep kedua, lanjut Ahok dalam sambutannya pada acara Pelantikan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Provinsi DKI Jakarta, adalah Fu De Zheng Shen, yang secara Hokkien dibaca Hok Tek Ceng Sin. Itu adalah salah satu dewa dalam panteon agama tradisional Tiongkok yang melambangkan kemakmuran dan jasa. Ajaran konfusius ini yang dijadikan Ahok sebagai pedoman kedua.
Pria kelahiran 1966 itu mengatakan, ajaran itu juga yang menjadi alasan orang tuanya memberi nama panggilan 'Ahok' kepadanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ajaran itulah, ujar Ahok, yang menjadi alasan mengapa ia mendapat ide untuk membuat konsep taman-taman atau ruang terbuka hijau (RTH) yang dibangun di dekat masjid. Konsep ini sudah mulai digarap tahap awalnya dengan proses pembebasan lahan.
Resep konfusius ketiga yakni kepercayaan apabila kepala lurus, maka bawahan akan mengikuti. "Kalau kepalanya lurus, maka bawahannya tidak berani tidak lurus. Kalau punya bupati, gubernur, presiden lurus dan tidak korup, bawahannya berani korup enggak kira-kira?" ujar dia.