Mantan Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Daryatmo mengatakan pada kasus MH370, terdapat aspek keamanan dan keselamatan yang menjadi perhatian utama di luar faktor cuaca. Dugaan pembajakan, terorisme, dan konspirasi membayangi misteri hilangnya pesawat milik maskapai penerbangan Malaysia Airlines tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara analis penerbangan CNN, Peter Goelz, mengatakan bahwa persoalan dengan MH370 adalah saat pesawat tersebut menghilang, alat penerima sinyal pesawat tampak sengaja dimatikan, pilot berhenti membuat transmisi radio, dan pesawat melakukan putaran misterius sebelum akhirnya hilang tanpa jejak.
Terkait operasi pencarian QZ8501, Daryatmo mengatakan tantangan terutama ada pada persoalan cuaca. "Cuaca tidak selalu bagus. Ada hujan dan kabut yang bisa membatasi pandangan tim pencari," kata dia.
Pencarian di laut juga tidak mudah karena luasnya area pencarian. Ini beda dengan pencarian di darat. "Dulu, waktu saya menangani pencarian pesawat Sukhoi yang letaknya tidak jauh dari Jakarta dan mengarah ke Gunung Salak, banyak informasi di darat yang bisa didapatkan," ujar Daryatmo.
Untuk kasus QZ8501, pesawat yang hilang kontak belum tentu jatuh di saat terakhir komunikasi terputus terakhir kali. "Pesawat bisa saja terbang ke mana dulu. Kemungkinan banyak sekali," kata Daryatmo.
Pesawat AirAsia QZ8501 lepas landas dari Bandara Juanda, Surabaya dengan membawa 155 penumpang. Pesawat menuju Singapura tersebut dinyatakan hilang kontak dengan menara pemandu lalu lintas udara di Jakarta pukul 07.15 WIB.
Dalam pesawat tersebut terdapat dua pilot, empat awak kabin, seorang mekanik, dan 155 penumpang dengan rincian 138 penumpang dewasa, 16 anak-anak, dan satu bayi. Sebanyak 149 penumpang merupakan warga negara Indonesia, tiga Korea Selatan, dan tiga lainnya berasal dari Perancis, Malaysia dan Singapura.