“Analisis peneliti sains atmosfer Lapan menguatkan informasi BMKG bahwa di titik lintasan yang dilalui AirAsia ketika hilang kontak, sedang terjadi awan kumulonimbus. Ada indikasi di wilayah itu sedang terjadi hujan lebat,” kata Kepala Lapan Thomas Djamaluddin kepada CNN Indonesia, Senin (29/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masalahnya, keinginan AirAsia untuk naik ke ketinggian 38 ribu kaki tak dapat dikabulkan oleh Air Traffic Controller (ATC) Bandara Soekarno-Hatta, sebab pada saat yang sama di jalur 38 ribu kaki itu, di atas QZ8501, ada pesawat lain yang melintas. Bila AirAsia naik ke ketinggian itu, ada potensi tabrakan dengan pesawat lain. (Baca: ATC Tak Izinkan AirAsia Naikkan Ketinggian)
Thomas membenarkan pesawat dirancang untuk mengatasi kondisi cuaca buruk. Namun banyak faktor yang mungkin bisa mengganggu penerbangan. “Kita tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi karena peristiwa ada di langit,” ujar Thomas. (Baca Pilot: Banyak Hal Bisa Terjadi dalam Lima Menit)
Saat ini Badan SAR Nasional dan TNI mengerahkan armadanya menuju perairan di sepanjang Selat Karimata, Bangka Belitung, hingga pesisir barat Kalimantan untuk mencari QZ8501 yang telah lebih dari 24 jam hilang. Malaysia dan Singapura juga mengirim kapal-kapalnya untuk membantu pencarian. Operasi pencarian besar-besaran ini dipimpin langsung oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla. (Lihat JK: AirAsia Kemungkinan Besar Kecelakaan)