"Ada anjuran menghindari mengendarai kendaraan. Konsumsi pseudoephedrine dalam jumlah besar menimbulkan efek halusinasi seperti melihat bayangan dikira orang," ujar Iwan saat dihubungi CNN Indonesia, Kamis (1/1).
Selain halusinasi, obat tersebut dapat menyebabkan detak jantung lebih cepat dan membuat seseorang jatuh pingsan.
Jika obat batuk tersebut digunakan saat mengendarai moda transportasi, seperti pesawat terbang, akan bisa mengganggu penglihatan pilot bersangkutan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Iwan kemudian mengatakan pseudophedrine biasa dikonsumsi sebagai obat batuk. Obat tersebut beredar di Indonesia dalam bentuk sirup. "Dia dijadikan precusor (obat yang kesamaan sumber molekulnya) untuk ekstaksi jenis morfin," katanya.
Sebelumnya, Tim Balai Kesehatan Penerbangan dan Tim Direktorat Kelaikan dan Pengoperasian Pesawat Udara Kementerian Perhubungan menggelar tes pemeriksaan urin kepada pilot.
Tes dilakukan di Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali, Kamis (1/1). Hasil tes menunjukkan pilot pesawat AirAsia QZ7510 berinisial FI yang saat itu baru saja menerbangkan pesawat dari Jakarta menuju Bali, positif diduga mengonsumsi narkoba jenis morfin. (utd/sip)