Bagi Akbar semestinya Agung tidak menuntut hal itu sebagai suatu syarat yang wajib dilakukan dalam perundingan terkait islah antara kedua kubu pada 8 Januari nanti. “Itu namanya frontal, nggak bisa frontal begitu,” kata Akbar saat dihubungi CNN Indonesia, Senin (5/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mantan Ketua Umum Partai Golkar ini mengatakan dalam iklim demokrasi ada kekuatan pemerintah dan kekuatan yang di luar pemerintah. Posisi Golkar di KMP sebagai suatu kekuatan yang berada di luar pemerintahan. “Kita kekuatan penyeimbang dan itu perlu dalam berdemokrasi,” kata Akbar.
Lebih lanjut Akbar mengharapkan pada pertemuan lanjutan kedua kubu nanti bisa dihasilkan kesepatakan yang semakin mengarah ke islah. Politikus kawakan partai berlambang beringin ini melihat masih adanya peluang untuk islah antara kubu Agung dengan Ical.
Posisi Partai Golkar akan tetap berada di Koalisi Merah Putih atau keluar KMP menjadi satu poin krusial yang belum disepakati oleh kedua kubu Golkar pada perundingan Selasa (23/12). Golkar di bawah komando Agung mengingatkan Ical bahwa sangat mungkin Golkar keluar dari KMP dan hal tersebut bukan masalah yang besar.
Politikus Golkar versi Agung Laksono, Melchias Markus Mekeng, mengatakan dalam politik tidak ada yang kaku, termasuk soal jika Golkar keluar dari KMP dan posisi Ical sebagai Ketua Presidium KMP. “UUD 1945 saja bisa diamandemen, apalagi kalau hanya mengubah posisi Golkar,” kata Mekeng saat berbincang dengan CNN Indonesia beberapa waktu lalu. (obs)