Dari pemaparan Budi, Komisi III akan menilai apakah mantan ajudan Megawati Soekarnoputri itu mampu atau tidak memimpin Polri. "Tinggal Pak Budi bagaimana. Mampu enggak dia meyakinkan kalau dia (dipilih Jokowi) bukan karena dekat dengan Bu Megawati, tapi karena memiliki kemampuan memimpin Kepolisian," ujar Nasir yang juga Wakil Ketua Komisi III kepada CNN Indonesia, Selasa (13/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati demikian, Nasir menghargai hak prerogatif Presiden. Presiden memang tidak memiliki kewajiban untuk selalu melibatkan KPK dalam menunjuk pejabat negara. (Baca NasDem: Kenapa Pilih Calon Kapolri Harus Lewat KPK?)
Sementara pengamat Kepolisian dari Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) Bambang Widodo Umar sebelumnya menyebut pencalonan Budi sarat nuansa politik. Bambang juga menyebut pengajuan nama Budi ke DPR terlalu terburu-buru, padahal Kapolri saat ini, Jenderal Sutarman, baru akan pensiun pada Oktober.
Bambang menduga ada kepentingan nepotisme partai pengasuh Jokowi untuk melanggengkan kekuasaan lama, sebab Budi adalah orang dekat Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Namun hal tersebut dibantah oleh PDIP. (Baca: Bela Budi Gunawan, Pramono Anung: Ajudan Orang Pilihan)
Sebelumnya, PPATK mengkonfirmasi temuan indikasi tak wajar dalam rekening Budi Gunawan. Laporan itu diserahkan kepada penyidik internal kepolisian untuk ditindaklanjuti. Namun setelah melakukan penyelidikan internal, Polri membantah ada hal tak wajar dalam rekening Budi. Polri menyebut dana dalam rekening itu berasal dari bisnis Budi.
Budi Gunawan saat ini menjabat Kepala Lembaga Pendidikan Polri. Jenderal bintang tiga itu dikenal dekat dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri karena pernah menjadi ajudan Megawati pada 2001-2005. Budi juga sempat menduduki jabatan Kapolda Jambi dan Kapolda Bali. (rdk/agk)