"Kuota tidak bisa ditambah, yaitu tetap 168.800 orang. Hal ini dikarenakan adanya perluasan Masjid al-Haram di Mekah dan Masjid al-Nabawi di Madinah," kata Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek saat ditemui di Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Jakarta Pusat, Selasa (20/1).
Ia mengatakan setuju dengan tidak adanya penambahan kuota. Berdasarkan pengalaman tahun lalu, yang pergi haji adalah orang-orang yang umurnya sudah agak tua sehingga berisiko tinggi. “Jadi, kami sebagai tenaga kesehatan tentu kewalahan (kalau ada penambahan kuota)," katanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun berdasarkan laporan yang diterima pihaknya, masalah jantung masih menjadi penyakit yang banyak diderita jemaah haji. Soal kesehatan para jemaah haji, Nila menekankan, "Jemaah haji merupakaan tanggung jawab Arab Saudi."
Lukman menjelaskan seleksi tersebut bukan hanya berdasarkan kemampuan calon jemaah haji secara finansial, tetapi juga kesehatan. "Orang-orang yang mengidap penyakit berisiko tinggi tidak dimungkinkan berangkat haji. Orang-orang seperti inilah yang tidak berkewajiban menunaikan ibadah haji karena dia tidak berkemampuan," kata Lukman menjelaskan.
Lukman mengatakan akan segera meminta pendapat ahli medis serta ulama terkait calon jemaah haji yang mungkin diberangkatkan dan yang tidak mungkin. "Dalam beberapa bulan ke depan akan kami lakukan itu," katanya. (obs)