Pendapat tersebut dilontarkan Yayat menanggapi hasil survei Economist Intellegence Unit yang menempatkan Jakarta sebagai kota paling tak aman di dunia. Survei tersebut meneliti 50 kota di dunia dengan memasukkan 40 indikator kuantitatif dan kualitatif. (Baca Survei: Jakarta Kota Paling Tak Aman Sejagat)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh karena itu jika ada warga negara asing menyambangi Jakarta, mereka lebih memilih tinggal di hotel atau apartemen yang jauh dari keramaian. "Itu adalah indikasi mereka merasa tak aman," ujar Yayat.
"Belum terbentuk budaya urban sehingga orang merasa bisa melakukan apa saja di Jakarta. Oleh sebab itu harus ada juga sanksi hukum yang tegas," kata Yayat. ia mendukung perangkat hukum di Jakarta diperbaiki hingga ada kepastian hukum.
Survei Economist Intelligence Unit memasukkan 40 indikator kuantitatif dan kualitatif. Ke-40 indikator tersebut terbagi dalam empat kategori tematik yakni keamanan digital, jaminan kesehatan, infrastruktur, dan personal. Setiap kategori terbagi lagi ke dalam tiga hingga delapan subindikator, seperti langkah kebijakan dan frekuensi kecelakaan lalu lintas.
Hasil survei menempatkan Jakarta, Tehran, Ho Chi Minh, Johannesburg, Riyadh, Kota Meksiko, Mumbai, Moskow, Delhi, dan Istanbul sebagai 10 kota paling tidak aman di dunia. Sementara Tokyo, Singapura, Osaka, Stockholm, Amsterdam, Sydney, Zurich, Toronto, Melbourne, dan New York meraih predikat 10 kota teraman di dunia. (sur/agk)