Pakar penerbangan yang juga investigator swasta kasus kecelakaan pesawat, Gerry Soejatman, ikut memantau secara independen musibah AirAsia tersebut. Dalam kunjungannya ke kantor CNN Indonesia pekan lalu, ia memaparkan sejumlah hal baru.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Posisi QZ8501 saat itu telah melewati awan badai, namun menuju awan badai lainnya. “Terlihat di depan pesawat ada lagi badai, awan kumulonimbus. Kalau dibilang pesawat menabrak kumulonimbus, seharusnya pesawat saat itu berada di dalam awan, bukan di luar,” ujar Gerry.
“Awan badai yang di depannya masih bisa dihindari. Dia (pesawat) bisa mencari jalan. Bisa ke kiri karena tak terlalu jauh dari rutenya,” kata Gerry yang pernah membantu rekannya dalam investigasi kecelakaan Air France 447 yang jatuh di Samudera Atlantik pada 1 Juni 2009.
Dalam laporan hasil investigasi awalnya, KNKT juga menyinggung perihal awan badai yang berada di hadapan QZ8501. Menurut KNKT, saat kejadian, foto satelit menunjukkan formasi awan kumulonimbus dengan puncak berada di ketinggian sekitar 44 ribu kaki. (agk)