Robovac Malaysia yang bermarkas di Petaling Jaya mengklaim perusahaannya sebagai “Leading robotic vacuums specialist in Malaysia.” Bukan produk yang dijual perusahaan itu yang jadi masalah, melainkan iklannya yang jelas-jelas menyinggung tenaga kerja Indonesia (TKI) di Negeri Jiran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lembaga advokasi dan pemerhati buruh migran Indonesia itu juga mengapresiasi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur yang bereaksi cepat dengan mengirim nota protes atas iklan tersebut.
Anis Hidayat mengingatkan, iklan rasis terhadap TKI bukan kali ini saja muncul di Malaysia. “Dua tahun lalu, 2012, ada juga iklan ‘Indonesian maids now on SALE!!!’ di jalan-jalan Malaysia. Saya sendiri yang memotretnya lalu kasusnya jadi ramai,” kata dia.
Iklan “Indonesian maids now on SALE!!!” ketika itu dilihat Anis di jalanan kawasan Chow Kit, Kuala Lumpur. Iklan yang menawarkan diskon 40 persen bagi mereka yang mengambil pembantu rumah tangga asal Indonesia itu dicetak dalam lembaran kertas dan ditempel di berbagai lokasi, juga diiklankan di media cetak Malaysia.
"Indonesian maids now on sale. Fast and easy application. Now your housework and cooking come easy. You can rest and relax. Deposit only RM 3,500! Price RM 7,500 nett,” demikian tulisan lengkap dalam iklan tersebut.
Melihat iklan tersebut, Anis mengatakan TKI tak ubahnya diperdagangkan seperti barang. Migrant Care menuding iklan itu bagian dari perdagangan manusia.
“Sekarang terulang lagi. Sebagian masyarakat Malaysia menganggap TKI seperti barang, seperti vacuum cleaner. Itu tak hanya merendahkan martabat bangsa Indonesia, tapi umat manusia,” ujar Anis.
Duta Besar RI untuk Malaysia, Herman Prayitno, juga mengatakan iklan tersebut mengganggu perasaan rakyat Indonesia, terlebih karena muncul di tengah persiapan kunjungan kenegaraan Presiden Jokowi ke Malaysia untuk memperkokoh hubungan bilateral kedua negara. (agk)