Menurut Ade jika dilakukan sekaligus dalam waktu bersamaan, faktor keamanan dan logistik tidak memungkinkan. "Coba tanya kepolisian, kasihan kalau serentak seluruhnya di Indonesia, tidak mungkin juga," kata Ade saat dijumpai seusai diskusi "Quo Vadis UU Pilkada" di Jakarta, Rabu (4/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk daerah yang belum kuat, tidak perlu dipaksakan Pilkada langsung. Misalnya, Papua. Kami berharap dengan demokrasi yang baik, maka kesejahteraan masyarakat juga akan membaik," kata Irman.
"Kalau Pilkada tidak bisa dilaksanakan sebelumnya, berarti ada pelaksana tugas (Plt). Jangan sampai Plt ini terlalu lama menjabat karena dia punya keterbatsan. Seorang Plt tidak bisa melakukan hal-hal yang bersifat stategis," kata Teras.
Sementara itu, hingga saat ini belum ada kesepakatan di Komisi II DPR RI untuk jadwal pelaksanaan pilkada. Sebagian besar Fraksi mendukung pelaksanaan Pilkada serentak diundur hingga 2016 mendatang.
"Hanya Fraksi PPP, Demokrat dan PDIP tetap berpendapat Pilkada serentak sebaiknya dilakukan mulai 2015," kata anggota Komisi II dari PPP Arwani Thomafi hari ini. Sementara fraksi PAN, Golkar, PKB, dan beberapa fraksi lain ingin pelaksanaan pilkada serentak diundur.
Pembahasan lanjutan mengenai nasib dari Pilkada serentak di Indonesia akan dilakukan kembali pada minggu depan oleh DPR. Saat ini pengunduran jadwal pilkada masih sebatas usulan dari komisi. (sur/obs)