“Di dalam penjara dia bukannya tobat, malah menjadi penjahat kelas kelas kakap,” kata Kepala Bagian Humas BNN, Komisaris Besar Slamet Pribadi di Jakarta, kemarin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada hari yang sama BNN juga menggeledah kontrakan Dewi di Kemayoran, Jakarta Pusat. Slamet menuturkan, langkah tersebut berbuah barang bukti sabu seberat 7,6 kilogram. BNN menemukan barang haram tersebut di dalam kardus.
Gerah pada kelakuan Mustofa, Senin (2/2) pekan kemarin, Kepala BNN Anang Iskandar menemui Jaksa Agung M Prasetyo. Anang meminta Prasetyo memasukkan nama Mustofa ke dalam daftar eksekusi mati jilid dua tahun 2015.
“Iya, (saya dia ingin dieksekusi). Tadi saya sudah lapor ke Jaksa Agung," kata Anang selepas bertemu Prasetyo.
Menanggapi permintaan Anang, Prasetyo menuturkan, lembaganya akan menunggu jawaban Presiden Joko Widodo atas permintaan grasi Mustofa. “Kalau grasi sudah keluar, kenapa tidak,” ujarnya singkat.
Ternyata grasi Mutofa pun ditolak. Jumlah terpidana mati yang akan mengakhiri hidup di depan regu tembak bulan ini genap 12 orang. (sur/sip)