Kedua faktor itu ialah pasang air laut yang berbarengan dengan matinya pompa air di Waduk Pluit, Jakarta Utara, akibat pemadaman listrik oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN). “Pompa tidak optimal karena harus berganti ke genset. Dari 10 pompa di Waduk Pluit, hanya 4 yang beroperasi. Genangan air jadi tidak bisa dialirkan,” kata Agus di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (10/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara Manajer Komunikasi Hukum dan Administrasi PLN Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang, Koesdianto, mengatakan pemadaman aliran listrik yang mengaliri fasilitas pompa pengontrol banjir di Waduk Pluit dilakukan karena PLN perlu mengubah pasokan listrik untuk mengisolasi jaringan di gardu-gardu listrik yang terendam banjir.
“Kondisi itu melampaui drainase kami,” imbuh Agus. Drainase di Jakarta, terutama di jalan-jalan protokol, hanya dapat menampung aliran air dengan curah hujan 50-80 mm, tak bisa menampung hujan dengan intensitas sedang dan lebat yang terjadi selama lebih dari 12 jam.
Soal buruknya drainase Jakarta juga sempat dikemukakan oleh Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho. “Aliran sungai di Jakarta masih normal, namun drainase amat buruk,” kata Sutopo. Bila nantinya sungai pun sampai meluap, maka bahaya besar menghadang Jakarta.
Menurut BPBD, hari ini titik-titik banjir di Jakarta telah berkurang signifikan dibanding Senin kemarin. Bila Senin tercatat ada 113 titik genangan air, maka saat ini tinggal 54 titik genangan air yang tersisa. (agk)