Sejumlah kawasan di mana curah hujannya kemarin mencapai 170 milimeter adalah Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Timur bagian utara, Tangerang, dan Pasar Minggu di Jakarta Selatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Kukuh, hujan hari ini masih berada di level normal seperti yang biasa terjadi di musim hujan, jauh dibanding saat banjir besar lima tahunan di Jakarta pada 2007 dan 2012 di mana curah hujan mencapai 200 mm/hari meskipun hal itu bukan faktor utama penyebab banjir.
Data 30 tahunan yang dimiliki oleh BMKG menunjukkan setidaknya curah hujan normal dengan puncak rutin di akhir Januari atau awal Februari, lebih mengerucut pada 10 hari pertama dan paling lebat di tiga hari awal.
"Kami hanya melihat sisi curah hujan serta cuaca dan faktor di sekitar itu. Sejauh ini kondisinya masih normal," kata Kukuh.
Hujan pekan ini berdampak paling parah di kawasan Jabodetabek. Ini karena ada massa udara dingin dari Siberia yang masuk ke bagian barat Pulau Jawa. Dalam istilah meteorologi, fenomena itu disebut dengan seruak dingin atau cold surge. Seruak dingin itu, menurut peneliti meteorologi tropis BPPT Tri Handoko Seto, bertemu angin yang bertiup dari timur, berkonvergensi, dan menyebabkan terbentuknya awan-awan hujan.
Kepala Sub Bidang Informasi Meteorologi BMKG Hary Tirto Djatmiko menyatakan konvergensi atmosfer dan lautan terbentuk di sebelah barat daya Sumatera sehingga menyebabkan pertemuan massa udara di bagian barat Jawa. Itulah sebabnya Jabodetabek yang terletak di barat Pulau Jawa terdampak paling parah. (pit/dlp)