Bahkan seorang sosiolog asal Universitas Negeri Jakarta, Robertus Robet mengatakan Presiden Indonesia Joko Widodo telah semena-mena dalam menolak grasi yang diajukan oleh para terpidana mati. Menurutnya Jokowi tak membaca secara detil berkas yang datang ke mejanya.
"Presiden tak memeriksa secara detil perubahan yang mungkin terjadi pada para terpidana sebelum dia dieksekusi, dia hanya menerima surat putusan dari Mahkamah Agung," ujar Robert saat ditemui di Jakarta, Ahad (1/3). Bahkan
Robert pun menuding Jokowi sama sekali tidak mengoptimalkan otoritas grasi untuk memeriksa dan tidak menguji secara detail putusan pengadilan yang menyangkut hukuman mati. Bahkan dia menuding Jokowi seakan tak mau ambil pusing dalam urusan grasi tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Presiden terkesan tak mau ambil pusing terhadap perkara yang menyangkut nyawa seseorang," katanya.
"Simpulannya adalah pemerintah kita menggunakan pertimbangan sapu bersih. Saya kecewa melihat sikap Jokowi dalam hal hukuman mati," ujarnya.
Seperti diketahui, Kejaksaan Agung hingga kini belum menentukan waktu pelaksanaan hukuman mati tahap kedua. Namun untuk lokasi eksekusi kemungkinan besar Kejaksaan Agung kembali menggunakan Nusa Kambangan sebagai arena eksekusi. (sip)