Kepolisian Republik Indonesia turun tangan untuk membantu pemerintah dalam mencari keberadaan 16 WNI tersebut dengan mendalami latar belakang ke-16 orang itu di kota kelahiran mereka masing-masing.
"Kami sekarang menarik mundur untuk melihat siapa saja mereka, kehidupan mereka di tempat asal mereka bagaimana, dan apakah mereka pernah tergabung dalam sebuah kelompok tertentu," ujar Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri, Komisaris Besar Rikwanto di Jakarta, Senin (9/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sikap 16 WNI tersebut yang tiba-tiba memisahkan diri dengan rombongan yang mereka itu, menurut Rikwanto juga menguatkan dugaan mereka bergabung dengan ISIS.
Setelah tiba di Istanbul, mereka memisahkan diri, mengaku ada urusan keluarga dan akan kembali pada 26 Februari. Seperti dijanjikan, pada 26 Februari ketua rombongan menelepon salah satu dari 16 orang tersebut, namun mereka mengatakan urusan belum selesai dan nanti akan bergabung di bandara saat pulang.
Rikwanto menjelaskan, saat ini Polri terus melakukan koordinasi dengan pihak Imigrasi, Badan Intelijen Nasional, Kementerian Luar Negeri, serta penyedia tur yang digunakan 16 WNI tersebut. Rikwanto menambahkan 16 WNI tersebut sama sekali tak melanggar aturan administrasi saat memasuki wilayah Turki.
"Mereka ke Turki karena melakukan perjalanan wisata dan semua aspek administrasi sejauh ini benar dan tak ada yang dilanggar. Mereka ke sana memang untuk tur," ujarnya. (pit)