"Kami sedang cari. Walaupun kami menduga itu dari kelompok siapa. Dan karena mereka masih anak-anak jadi kami harus lebih berhati-hati sebelum kami memberikan satu statement, sehingga langkah kami enggak salah," kata Kepala Badan Intelijen Negara Marciano Norman di Istana Negara, Rabu (18/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara memastikan video berbahasa Indonesia yang menampilkan anak-anak tengah mengikuti latihan ala militan ISIS telah hilang dari dunia maya.
Rudiantara lantas menunjukkan bukti percakapannya dengan salah seorang staf yang mengurusi soal pemblokiran video melalui ponsel. Ia mengaku mendapatkan pengaduan soal video itu pada Selasa (17/3) dini hari pukul 01.00 WIB. Kemudian, pukul 13.00 WIB video itu sudah hilang dari situs Youtube di area Asia Pasifik.
"Sore saya dikasih tahu, jam 15.00 WIB, secara global sudah tidak ada lagi (videonya)," kata dia.
Selama dua hari belakangan ini, sebuah video berdurasi dua menit yang menunjukkan sekelompok anak dididik ala militan ISIS itu beredar luas di internet. Anak-anak itu terlihat diajari menggunakan senjata, bongkar pasang senapan, bela diri, dan lain-lain dengan teks berbahasa Indonesia.
Di tengah video, seorang anak yang sedang mengikuti pelatihan militan itu ditanyai oleh orang dewasa yang melatihnya, “Menembak bisa?” “Bisa,” jawab si anak.
“Bongkar pasang AK (senapan AK-47) bisa?” tanya pelatihnya lagi. “Bisa,” jawab si anak dengan mantap.
Polri sebelumnya menyatakan Indonesia menjadi negara target rekrutmen ISIS. Kelompok radikal itu bukan hanya menyasar orang dewasa untuk diajak bergabung, tapi juga anak-anak.
(hel)