"Kami ingin dikembalikan pada posisi semula, tidak diblokir. Ini ada kesalahpahaman bahwa kami dituding memanas-manasi masyarakat untuk bergabung ke ISIS," ujar Mahladi kepada awak media di Gedung Kominfo, Jakarta, Selasa (31/3). Mahladi bersama sedikitnya lima pemimpin redaksi situs lainnya, saat ini tengah menemui pihak kementerian untuk mempertanyakan alasan pemblokiran. (Baca juga: Pemblokiran 22 Situs Islam Radikal Masih Bisa Dibuka)
"Sejak dari awal, kami belum pernah dipersoalkan. Setelah 20 puluh tahun, kami diblokir secara tiba-tiba, itu janggal. Kami merasa seperti itu. Tidak pernah dipanggil sebelumnya," ujarnya. Ia menuturkan, situs Hidayatullah sejak berdiri pada tahun 1996, belum melakukan perubahan baik dari sisi tampilan maupun konten. Mahladi mengklaim, medianya hanya mengajak berislam secara benar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hingga berita ini diturunkan, proses audiensi masih berlangsung. "Kami akan melakukan pengaduan. Nah pihak yang mengadu, dijaminkan diproses dalam waktu 24 jam," ucapnya. (Baca juga: Menteri Rudiantara: Situs Bermuatan Terorisme Sulit Dilacak)
Sebelumnya, BNPT meminta Kominfo untuk memblokir situs yang diklaim menyebarkan ajaran islam radikal dan mengajak masyarakat bergabung ke ISIS. Melalui keterangan resminya Ismail mengatakan kementerian telah memblokir 22 situs yang dianggap radikal sesuai permintaan BNPT. (Lihat Fokus: Kontroversi Pemblokiran Situs Islam) (sip)