"Kami selaku Mujahidin gugus tugas Indonesia Timur menantang Densus 88 untuk berperang secara terbuka dan jantan! Mari kita berperang secara laki-laki! Jangan kalian cuma berani menembak, menangkapi anggota kami yang tidak bersenjata! Kalau kalian benar-benar kelompok laki-laki, maka hadapi kami! Jangan kalian menang tampang saja tampil di televisi!" demikian kutipan isi surat kelompok Santoso kepada Densus 88.
Surat itu, sebagaimana dikutip dari buku karya Ansyaad Mbai 'Dinamika Baru Jejaring Teror di Indonesia' terbitan 2014, hanyalah sebuah cara untuk memancing polisi dan TNI masuk ke markas mereka di Gunung Biru, Tamanjeka. Sebuah pancingan yang akhirnya tidak mendapatkan respons. (Baca juga: Segudang Jejak Teror Daeng Koro di Mata Polisi).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Daeng Koro, salah satu tokoh penting kelompok teroris Santoso, kini tewas dalam baku tembak antara Densus 88 dengan kelompoknya di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Jumat (3/4).
Kejadian bermula dari laporan warga yang melihat enam orang tak dikenal di sekitar kediaman mereka selepas salat Jumat. Warga kemudian melaporkan keberadaan orang-orang tersebut ke Mapolres Parimo.
Tim Densus 88 Antiteror lalu melakukan penyisiran dan melihat sekitar 12 orang tak dikenal. Saat itu tembakan peringatan dilepas, dan kelompok tersebut membalas dengan rentetan tembakan. (Baca juga: Baku Tembak Densus dan Jaringan Santoso Disertai Ledakan Bom)
Dari baku tembak tersebut, Densus menyita barang bukti dua pucuk senjata laras panjang jenis M-16 dan satu pucuk senjata rakitan, satu bom lontong, ratusan amunisi, dua ponsel, dan GPS. (Baca selengkapnya FOKUS: Akhir Perlawanan Daeng Koro)
(hel/agk)