Direktur Operasional dan Teknik PT Angkasa Pura II Djoko Murjatmodjo menyatakan kasus penumpang gelap di roda pesawat sesungguhnya bukan pertama kali terjadi di Indonesia. “Dulu pernah terjadi di Medan,” ujarnya kepada CNN Indonesia, Rabu (8/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak seperti Mario Stevan Ambarita yang merencanakan aksinya genap 10 hari, Manto dan Siswandi ketika itu hanya semalam menyusun rencana. Dini hari pukul 03.00 WIB, mereka menyelinap ke Bandara Polonia lewat parit yang terletak tak jauh dari landasan pacu. Dari situ, mereka mengendap-endap ke ruang roda pesawat.
Lantas untuk apa Manto dan Siswandi nekat menyabung nyawa ke Jakarta? Tak ada alasan spesifik. Semacam kerasukan ide gila dari langit.
Jauh sebelum itu, 18 Februari 1981, nyali gila didapat Tarsono. Tubuhnya ditemukan di ruang roda pesawat Mandala oleh petugas apron. Luka-luka yang ia derita jauh lebih parah dari Mario, Manto, dan Siswandi. Kedua kaki Tarsono nyaris busuk, tubuhnya hitam legam dan berlumur oli. Belum lagi darah mengental di pakaiannya.
Pilot dan puluhan penumpang yang mengerumuninya terkejut bukan kepalang. Tarsono langsung dibawa ke Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat. Belakangan diketahui ia menumpang gelap menuju Jakarta dari Bandara Ahmad Yani, Semarang.
Simak selengkapya di FOKUS: Aksi Gila Penyusup Pesawat Garuda
Siapa Tarsono, bagaimana ia bisa menyelundup ke ruang roda pesawat, dan untuk apa dia ke Jakarta? Hingga kini pertanyaan-pertanyaan itu tak bisa sepenuhnya terjawab karena Tarsono hilang ingatan. Ia mengalami gangguan jiwa. Yang jelas, ia gelandangan dan pekerja serabutan. Hidupnya tak jelas.
Angkasa Pura selaku pengelola bandara tak ingin kisah-kisah itu terulang. Mereka langsung menggelar penyelidikan untuk mencari tahu kasus terakhir yang menimpa Mario, si penumpang gelap roda pesawat dari Pekanbaru.