Aksi gila Mario menyusup ke ruang roda pesawat dianggap membahayakan penerbagan dan keselamatan penumpang lain. “Harus betul-betul dicek apa motifnya. Dia bukan orang sembarangan. Apakah dia ingin menguji diri sendiri tahan atau tidak di ketinggian? Atau dia punya maksud kriminal seperti teroris? Harus dicari tahu kebenarannya,” kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan JA Barata kepada CNN Indonesia, Rabu (8/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Itu antara sadar dan tidak sadar. Dia pura-pura atau tidak? Jangan-jangan dia punya alasan lain butuh tumpangan ke Jakarta. Semua kemungkinan dan motif harus diperiksa,” ujar Barata.
Di sisi lain, Kemenhub tak mau buru-buru menyalahkan otoritas Bandara Sultan Syarif Kasim II yang ‘kebobolan’ aksi gila Mario. “Modus kasus semacam ini semakin tahun semakin berkembang. Jadi kasus-kasus penyusup di roda pesawat tidak bisa disamaratakan. Tak ada polanya. Kompleksitas di tiap bandara berbeda,” kata Barata.
Menurut Vice Corporate Communications Garuda Indonesia Pujobroto, Mario merancang aksinya selama genap sepuluh hari. Dia mengamati dengan cermat Bandara Sultan Syarif Kasim II, termasuk saat pesawat-pesawat mendarat dan lepas landas.
Mario diketahui masuk ke roda pesawat dari ujung landasan pacu, saat pesawat berhenti lima menit di sana tepat sebelum lepas landas. (agk)