"Rasa-rasanya percetakan yang melakukan pencetakan UN tahun ini rekam jejaknya baik. Kalau tidak baik, pasti di-blacklist," kata Nizam kepada CNN Indonesia saat ditemui di Kemendikbud, Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (16/4).
Hal senada juga diungkapkan oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud Furqon. "Rekam jejak Percetakan Negara bagus. Fasilitasnya juga bagus," kata Furqon saat dihubungi CNN Indonesia. (Baca Juga: FOKUS Bocornya Soal UN Tahun Ini)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam pelaksanaan pencetakan UN ini, kami bekerja sama dengan tim kepolisian sejak dari pengambilan materi, serah terima materi, dalam proses pencetakan hingga pengiriman materi kepada user," demikian pernyataan PNRI melalui rilis, Rabu (15/4).
Akibatnya, percetakan itu tidak boleh mencetak UN selama satu tahun. "Kami akan ekstra hati-hati memantau percetakan yang pernah masuk daftar hitam itu. Tiap hari kami pantau secara ketat agar tidak terjadi hal serupa lagi," ujarnya.
Sebagai contoh, PT Ghalia Indonesia Printing pernah masuk "daftar hitam" pada 2013 karena gagal mencetak soal UN secara tepat waktu. "Percetakan itu kami pantau ketat supaya keterlambatan tidak terulang lagi," kata Nizam.
Untuk UN 2015, telah terpilih 16 percetakan untuk mencetak soal. Furqon menjelaskan belasan percetakan tersebut berasal dari berbagai provinsi di Indonesia, seperti Padang, Jakarta, Riau, Bali, Jawa, Manado, dan Makassar.
Lebih lanjut lagi, Nizam mengatakan belum pernah ada kejadian di mana percetakan masuk "daftar hitam" karena membocorkan soal UN. "Yang masuk daftar hitam itu semuanya karena keterlambatan pencetakan UN," katanya menegaskan. (utd)