"Saya kira Presiden punya cara sendiri untuk mencermati, mengingatkan, menegur, mengarahkan menteri yang tidak sesuai dengan visi misi," ujar Tjahjo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (21/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tjahjo pun mengaku tahu persis bahwa Presiden sangat memperhatikan pemberitaan media dalam menilai kinerja para menterinya. "Sangat tahu. Karena itu menyangkut kompleksitas masalah. Misalnya, harga beras lagi tinggi, Dollar menguat, kok, ada wacana menaikkan pajak tol? Enggak pas," kata dia.
"Mau reshuffle atau tidak, pergeseran menteri itu bagian dari hak prerogatif presiden. Tapi menurut saya tidak dalam waktu dekat ini. Ini juga baru jalan," ujar dia.
Tjahjo menilai hasil survei yang mengatakan bahwa kepuasan publik terhadap pemerintahan Jokowi-JK dan kinerja Kabinet Kerja rendah itu disimpulkan terlalu cepat. Ia menuturkan, tempo lima bulan sebenarnya belum bisa menjadi ukuran. "Harus dijelaskan, APBN-P baru. Setelah selesai empat bulan," ujar dia.
Selain itu, Tjahjo memandang bahwa seorang menteri tidak harus belajar dari awal untuk bisa menjalankan tugasnya. Yang jelas, menteri itu harus mampu menjabarkan kemauan Presiden. "Sederhana. Menteri harus mendengar aspirasi dan melayani masyarakat, mendengar masukan, saran kritik media dan publik," kata dia. (utd)