Sebelumnya, seorang koresponden Aljazeera, Step Vaessen, melalui akun Twitter miliknya, @stepvaessen, berkicau soal ini.
"BREAKING NEWS: Mulai besok semua wartawan asing akan bebas pergi ke Papua, Presiden Jokowi baru saja memberitahuku dalam wawancara eksklusif," tulis Step, Sabtu (9/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Emilda, pemilik akun Twitter @msero, merespons cuitan Step itu dengan pertanyaan, "kabar bagus sekali! Bagaimana soal kekerasan hak asasi manusia dan kebijakan keamanan?"
Namun, Andi enggan memberikan keterangan lebih lanjut. Alih-alih, ia meminta untuk menunggu pernyataan resmi dari Presiden. "Harap ditunggu pernyataan Presiden tentang itu di Papua," kata dia.
Sekretaris Jenderal Aliansi Jurnalis Independen Indonesia Suwardjono berpendapat bahwa pengurusan izin meliput ke Papua bagi wartawan asing memang lebih rumit dibanding ke daerah lain di Indonesia.
"Entah karena ada kekhawatiran atau apa. Tapi memang ada informasi yang harus diisi lebih banyak ketika datang ke Papua dibanding provinsi lain," ujar Suwardjono kepada CNN Indonesia.
AJI Indonesia sebagai organisasi profesi jurnalis yang peduli terhadap kebebasan pers menyayangkan kondisi Papua yang lebih tertutup bagi peliputan oleh media asing.
Ketua Advokasi AJI Indonesia Iman D Nugroho mengatakan, AJI Indonesia tidak menyoalkan adanya perizinan yang harus dimiliki oleh wartawan asing yang meliput di Indonesia. "Tetapi jangan sampai Papua menjadi daerah yang tertutup," kata Iman. (hel)