Hati Sinta tergerak menyerahkan burung kesayangannya itu karena pemberitaan di media yang sedang marak tentang satwa yang dilindungi itu. "Saya ingin juga memelihara itu sebagai kenang-kenangan kepada bapak. Tapi beberapa waktu lalu ketika melihat di televisi banyak sekali terjadi penyelundupan burung yang sangat begitu kejam caranya. Saya sangat kaget sekali kenapa seperti itu," kata Sinta. (Baca juga: Pemerintah Sudah Terima 40 Kakatua Jambul Kuning)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski sebenarnya burung itu sudah wafat tak lama setelah Abdurrahman Wahid wafat. "Semasa bapak masih ada dia bisa menyanyikan lagu Indonesia Tanah Airku. Tapi setelah bapak wafat burung itu menyusul mati," kata Sinta bercerita. (Baca juga: Kakatua Putih, Dijual Rp 20 Juta tapi Makin Terancam)
Burung kakak tua jambul kuning itu ia dapatkan dari pemberian seseorang sejak 7 bulan lalu. Pasalnya burung itu didapatkan dari Irian Jaya.
"Kami sangat berterima kasih karena ibu telah melepaskan kenangan terindah dan diserahkan kepada negara. Inilah contoh, baik nasional maupun internasional karena ini sudah menjadi kosern internasional," kata Siti sambil menerima burung peliharaan dari Sinta.
Dengan diserahkannya burung peliharaannya pada pemerintah, Sinta memiliki satu permintaan khusus. "Tolong diajarkan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Untuk menunjukkan dia nasionalis, bahwa Indonesia adalah tanah airnya," kata Sinta.
Selain Sinta Nuriah Wahid, hari ini juga ada sepasang suami istri bernama Sri dan Arya warga Jakarta yang menyerahkan burung kakak tua jambul kuning dan burung nuri. Bahkan Sri sampai menangis melepas burungnya yang sudah 31 tahun bersamanya.
"Saya sedih sekali," kata Sri. Sejak 1984 Sri dan Arya memelihara burung itu. Bahkan mereka memeliharanya tak lama setelah burung itu menetas.
Sri dan Arya mendapatkannya di Irian Jaya. "Di sana hampir semua orang punya," ujar Sri. Ibu paruh baya itu juga mengaku kepemilikan burungnya sudah sesuai ijin dan sudah didaftarkan. "Ada ijinnya. Sudah didaftarkan. Waktu ada flu burung juga divaksinasi selalu mengikuti peraturannya," kata Sri menambahkan.
Jumlah kakak tua yang sudah diterima KLHK sampai saat ini sudah mencapai 72 ekor. "Dari tanggal 9 mei sudah masuk 72 ekor. Prosedurnya setelah masuk, diperiksa oleh dokter hewan, dikarantina setelah itu masuk ke rehabilitasi," kata Sinta.
Hari ini, sebanyak 11 burung akan dibawa ke lokasi rehabilitasi di Taman Safari Indonesia. Selain Taman Safari, lokasi rehabilitasi lainnya berada di Tegal Alur dan Taman Mini Indonesia Indah. (sip/sip)