Nasib itu bisa saja berubah seandainya dia tidak diasuh dan berada di rumah penampungan yang harmonis dan penuh dengan kasih sayang. Keadaan ekonomi keluarga yang sulit bisa menjauhkan Farid dari hal-hal yang sudah diraihnya saat ini. Dia bisa saja berakhir sebagai seorang gelandangan. Namun, kenyataannya tidak demikian.
Farid tiba di rumah penampungan anak di SOS Children's Village Karya Bhakti Ria Pembangunan di Cibubur, pada 1985. Saat itu usianya masih 6 tahun dan rumah penampungan tersebut baru saja didirikan setahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seorang anak duduk di teras salah satu rumah penampungan di SOS Children's Village, Jakarta Timur. (CNN Indonesia/ Tri Wahyuni) |
Seorang ibu asuh, Mama Regina, sedang menyiapkan bekal makan siang buat kedua anak asuhnya di salah satu rumah di SOS Children's Village, Jakarta Timur. (CNN Indonesia/ Tri Wahyuni) |
Dengan konsep ibu asuh dan rumah bak keluarga asli, Farid merasa mendapatkan kasih sayang dan peran keluarga. "Anak yang kehilangan keluarga harus punya figur yang tetap. Kalau ganti-ganti, anak tidak akan bisa hidup dengan baik," kata dia menjelaskan.
Keberadaan Yanti selama 24 jam sehari untuk Farid membuat dia menganggap perempuan itu layaknya ibu kandung. Saat ini, meski sudah tak tinggal di SOS Children's Village, Farid masih selalu menyempatkan diri menemui Yanti di Wisma Bunda SOS Children's Village.
Tak hanya Farid, ratusan teman-temannya yang sudah tidak lagi menghuni rumah aman anak itu juga masih sering berkunjung ke tempat penampungan itu, terutama menjenguk ibu asuh mereka. SOS Children's Village, kata Farid, sudah terasa layaknya kampung halaman sendiri.
"Kalau lebaran pada ke sini semua. Kami makan-makan bersama. Ramai sekali," kata Farid.
Anak-anak bermain bola di kawasan rumah penampungan di SOS Children's Village, Cibubur, Jakarta Timur. (Cnn Indonesia/ Tri Wahyuni) |
"Sudah banyak yang sukses. Paling banyak itu bekerja di bidang pariwisata, kesehatan dan pendidikan. Ada juga di boga, yang kerja di luar negeri dan olahraga juga banyak. Militer juga ada. Wartawan ada satu," kata Direktur Nasional SOS Children's Village, Gregor Hadi Nitihardjo atau akrab dipanggil Hadi kepada CNN Indonesia.
Kesuksesan anak-anak asuh di SOS Children's Village, kata Hadi, dimulai dari perencanaan yang matang sejak kecil. Di tempat penampungan itu, para ibu asuh dibiasakan untuk mengajar anak-anak tersebut merencanakan pendidikan serta cita-cita asuhan mereka.
"Kami tidak mau mereka nantinya salah jurusan. Mau kuliah sosial politik, mereka harus mengerti itu apa. Jangan sampai dua tahun kuliah terus merasa salah jurusan," kata Hadi.
Menurut dia, itu merupakan salah satu cara yang diterapkan SOS Children's Village untuk mempersiapkan calon mahasiswa supaya jauh hari punya perencanaan. Tak heran jika saat ini pun mereka bisa sukses.
Ada kegiatan melukis, menari, menyanyi, perkusi, sepak bola dan gambang kromong serta informasi teknologi. Dari kegiatan itu anak-anak SOS Children's Village juga bisa menunjukkan kemampuannya dan bisa tampil di masyarakat luas.
"Kemarin anak-anak habis tampil paduan suara di Mall Central Park," kata salah satu ibu asuh. (utd)
Seorang anak duduk di teras salah satu rumah penampungan di SOS Children's Village, Jakarta Timur. (CNN Indonesia/ Tri Wahyuni)
Seorang ibu asuh, Mama Regina, sedang menyiapkan bekal makan siang buat kedua anak asuhnya di salah satu rumah di SOS Children's Village, Jakarta Timur. (CNN Indonesia/ Tri Wahyuni)
Anak-anak bermain bola di kawasan rumah penampungan di SOS Children's Village, Cibubur, Jakarta Timur. (Cnn Indonesia/ Tri Wahyuni)