"Apakah kita menempuh jalan kapitalisme yang bertumpu pada liberalisme, atau menempuh jalan sosialisme?" ujar Mega dalam kuliah umum di Lembaga Ketahanan Nasional, Jakarta kemarin.
Pertanyaan itu muncul lantaran Mega merasa jejak sejarah yang terekam dalam Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) sempat dibelokkan, dikaburkan, dan diberi makna yang berbeda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Atas hipotesis tersebut, Mega lantas mempertanyakan sejauh mana semangat gotong royong bisa disandingkan dengan paham libelarisme, kapitalisme, dan/atau sosialisme. Peneguhan paham itu penting demi menentukan arah jalan masa depan bangsa.
"Gotong royong adalah prinsip tolong menolong. Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul," kata Mega.
Dengan mencermati setiap kata dalam pembukaan UUD tahun 1945, serta memerhatikan keseluruhan substansi Pasal 33, dan tanggung jawab negara untuk menciptakan penghidupan yang layak, ujar Mega, maka semangat gotong royong harus terwujud di Indonesia
"Kita tidak boleh ragu, bahwa arah yang kita tempuh adalah suatu bentuk sosialisme ala Indonesia, suatu sosialisme gotong royong. Itulah kepribadian Indonesia," kata Mega.
Sebelumnya, Megawati dalam sambutannya di Kongres IV PDIP April lalu, mengobarkan semangat-semangat perjuangan Bung Karno. Mega menyatakan Indonesia harus bangkit di atas kepercayaan diri sendiri untuk menuju kejayaan bangsa dan disegani di mata dunia. “Bangsa Indonesia memiliki cita-cita besar, gagasan Indonesia merdeka, kepercayaan diri menjadi modal utama,” kata Mega saat itu dalam pidato politiknya. (obs)