"Ada orang yang urus ini naik fortuner lho. Kami intip kok. Saya tahu datanya, dia siapa, aktivis mana, lulusan mana. Ini kayak mau main politik supaya kami takut," ujar Ahok saat ditemui di Gedung Balaikota, Jakarta, Kamis (28/5).
Namun, gubernur yang terkenal dengan aksinya yang berani ini mengaku tak gentar dengan penentangan yang sengaja dilakukan oleh oknum tertentu dengan cara memprovokasi warga agar menolak kebijakan Pemprov DKI. Apalagi jika tindakan itu bermuatan politis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah bangunan mereka dibongkar oleh Satpol PP pada Rabu (27/8) lalu, warga bantaran Kali Ciliwung di Pinangsia memang mendirikan tenda. Tapi, Ahok tak ambil pusing karena pihaknya sudah menyediakan rumah susun sewa sederhana (rusunawa) untuk mereka.
"Jadi mereka minta bagi tanah. Saya bilang nggak boleh bagi tanah. Kalau bagi ke Anda, saya jamin Anda jual. Rumah susun saja Anda jual kok. Inikan mental orang yang mau cari untung. Yah makanya kita akan terus bongkar," jelas Ahok.
"Dia sekarang lapor ke Komnas HAM ke mana-mana seolah-olah ini pemerintah menzalimi, kejam," ujarnya.
Sebenarnya mantan Bupati Belitung Timur itu telah menyadari tentang pola penolakan yang kerap terjadi jika ada relokasi warga yang menempati tanah negara. Penolakan ini selalu terjadi karena ada oknum tertentu yang ingin mencari keuntungan.
"Jadi pola ini kita udah hafal. Pola permainan orang yang dudukin ini terutama orang yang punya lahan. Cara ini juga kami lakukan supaya membuat orang takut jual beli. Sekarang Anda masih berani beli rumah di tepi sungai? Pasti Anda mulai takut," tegas Ahok. (pit)