Lebih lanjut Andayani mengatakan, dari sisi kepesertaan juga masih mengalami kendala. Banyak warga yang mendaftar BPJS mendadak karena sudah terserang penyakit. "Orang mendaftar masih pada waktu menjelang sakit. Seharusnya kan sekarang semua orang mendaftar jadi peserta BPJS Kesehatan," ujar Andayani.
Tak hanya peserta yang mengalami pemahaman yang kurang mengenai BPJS Kesehatan, para provider seperti puskesmas, klinik, atau rumah sakit pun dianggap masih ada yang belum paham mengenai pelaksanaan BPJS Kesehatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami bekerja sama dengan pimpinan redaksi media di Jateng dan DIY. Kami pengen media berperan juga untuk pelayanan ini," ungkap Andayani.
"Kami ada juga tanga jawab dengan media. Rutin empat bulan sekali, update kalau ada aturan yang baru, kemudian mendengarkan pengalaman dari mereka dan mencari apa yang bisa dikerjakan lagi," jelasnya.
Selain melakukan sosialisasi langsung ke masyarakat dan melalui media, BPJS Kesehatan yang dinaungi Andayani pun kerap memberikan pelatihan untuk meningkatkan mutu pelayanannya. Agar semakin banyak lagi masyarakat yang mau mengikuti program ini.
"Kami juga meningkatkan kompetensi faskes primer dengan mengadakan latihan tentang penatalaksanaan diabetes, misalnya. Kalau orang diabetes yang bisa dikendalikan tidak harus ke rumah sakit untuk minta obat saja, bisa di faskes primer," ujar Andayani. (pit)