"Harus dipikir seperti ini, kalau mengaji dengan pengeras suara sebaiknya dipilih yang kualitas baik untuk diperdengarkan ke orang lain. Agar, tafsiran terhadap makna secara umum tidak ada kesalahan," kata Nur Syam saat dihubungi CNN Indonesia, Selasa (9/6). (Baca juga JK: Hentikan Rekaman Pengajian yang Diputar di Masjid)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Berpikir bukan tentang boleh atau tidak boleh tapi dampaknya yang harus dipikirkan," kata Nur Syam menegaskan.
"Kalau fatwa melibatkan aspek hukum segala macam. Ini maksudnya mentradisikan kalau mengaji sebaiknya begini dan begitu," ujar dia.
Sebelumnya, Wapres Jusuf Kalla menyayangkan adanya pengajian yang memutar dengan kaset alih-alih langsung dari individu bersangkutan. Menurutnya, rekaman pengajian seperti itu berpotensi menimbulkan polusi udara dan dinilai juga tidak mampu memberikan pahala bagi individu yang mengaji. (Baca juga FPI: Pendengar Rekaman Mengaji Dapat Pahala)
"Berhentikan itu, apa urusannya Anda mengaji pakai kaset, tidak ada pahalanya itu. Kalau ada pahalanya, itu orang Jepang yang dapat karena itu pasti pakai Sony," kata JK dalam pidato pembukaannya di Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI, Tegal, Jawa Tengah, Senin (8/6).
JK, yang menjabat Ketua Umum Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (DMI) mengatakan pemutaran rekaman mengaji lewat kaset tidak efektif dan efisien serta malahan mengganggu ketenangan masyarakat sekitar. Ditambah lagi mayoritas penduduk Indonesia yang beragama Islam membuat banyaknya masjid dalam jarak dekat dan juga membuat tumpang tindih suara diantara masjid tersebut.
"Ini pengalaman saya kemarin jam empat pagi saya sudah dibangunkan empat masjid dan dihajar pengajian kaset," kata mantan Ketua Umum Partai Golkar ini. (utd)