"Modusnya bergeser. Dulu mereka sempat mau orang lokal. Sekarang hanya mau dengan orang Arab," kata Bambang di Jakarta, Rabu (10/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, rumah bordil yang dipakai kedelapan pelacur itu juga pernah dijadikan sarang pelacur Maroko pada Desember 2014. Ditjen Imigrasi pun telah mencokok 19 orang dan mendeportasi mereka pada Januari 2015.
Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM menggelar konferensi pers terkait penangkapan pelacur asal Maroko di Cisarua, Bogor, yang diduga terlibat sindikat internasional. (CNN Indonesia/Aghnia Adzkia) |
Mereka diduga menyalahgunakan izin yang diberikan oleh pemerintah RI. Para pelacur tersebut masuk ke Indonesia melalui jalur normal dan legal. Paspor dan izin wisata pun sudah digenggam.
Semula mereka berdalih hendak pelesir dan memanfaatkan perjanjian Indonesia dan Maroko melalui Bebas Visa Kunjungan Singkat selama 30 hari. Namun kemudian mereka diduga menjajakan tubuh untuk menghasilkan duit.
"Di dalam pengawasan kegiatan imigrasi, mereka melakukan kegiatan yang tidak sesuai. Izin tinggal untuk kunjungan wisata tapi ternyata tidak. Ketahuan ketika sudah di Indonesia," kata Pelaksana Tugas Dirjen Imigrasi Kabul Priyono.
Sementara itu, tim investigasi juga telah menangkap lima orang lain yang berstatus pengungsi, yakni Rashwan Shakir, Mahmed Lashkar, Arkan Basim, dan Reza Najem. Merujuk data intelijen, mereka diduga mendatangkan, menghubungkan dengan konsumen, serta mengambil keuntungan prostitusi. (agk)
Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM menggelar konferensi pers terkait penangkapan pelacur asal Maroko di Cisarua, Bogor, yang diduga terlibat sindikat internasional. (CNN Indonesia/Aghnia Adzkia)