"Ya Allah, masukkan Angeline di surga-Mu agar dia bisa berlari-lari di surga dengan boneka kesayangannya. Air mata kami tak henti bercucuran ketika membayangkan anak cantik dikubur dalam keadaan memeluk boneka, dibunuh biadab oleh orang yang tak punya nurani," tutur Maman. (Baca: Misteri Jasad Angeline dan Boneka yang Jadi Saksi Bisu)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu. Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu. Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu," ujar Monika mencuplik puisi.
Angeline dibunuh oleh mantan pembantu keluarga angkatnya, Agustinus Tai Mandamai. Keluarga Angeline menyatakan bocah itu hilang pada hari ia terbunuh, 16 Mei. (Baca: Polisi: Ibu Angkat di Kamar Saat Angeline Dibunuh di Rumah)
Sementara itu, pihak kepolisian juga tengah membidik Margriet sebagai tersangka. Kamis (11/6), Margriet kembali diperiksa pihak aparat.
Kesaksian wali kelas dan kepala sekolah Angeline, beberapa bulan sebelum kematiannya, mengindikasikan dugaan diabaikannya hak anak atas Angeline oleh Margriet.
Beberapa guru kerap menemukan Angeline mengenakan seragam sekolah dengan bau tidak enak yang menyengat dari tubuhnya. Ada pula aduan dari Angeline tentang kondisinya yang mengalami sakit kepala karena lapar. (obs/obs)