"Selama ini cuma satu renstra, cuma pengadaan alutsista. Sekarang tambah dua, renstra kesejahteraan prajurit dan pemeliharaan alutsista itu sendiri," kata Kepala Pusat Penerangan Mayor Jenderal Fuad Basya di Jakarta, Sabtu (4/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan dibuatnya renstra baru ini, nantinya anggaran pemeliharaan alutsista akan berdiri sendiri. Oleh karena itu, diharapkan kondisi alat-alat dan senjata TNI dapat lebih terpelihara dengan baik.
Semntara itu, Wakil Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Tantowi Yahya menilai kondisi alutsista yang dimiliki TNI saat ini sudah terlalu uzur dan tidak lagi relevan dengan kondisi saat ini.
Tantowi menjelaskan, mengacu kepada data dari lembaga analisis Centre for Social and Community Studies (CSCS), hampir 80 persen alutsista TNI berusia lebih dari 40 tahun.
"Dengan kondisi ini, Indonesia tidak bisa lari dari kenyataan bahwa anggaran alutsista belum mencukupi kebutuhan," kata Tantowi.
Oleh karena itu, katanya, Komisi I DPR mendukung sepenuhnya pembelian alutsista baru dan bukan menggunakan hibah atau bekas negara lain.
"Kemudian terkait pesawat yang ada sekarang, mesti ditingkatkan perawatannya dan (prosesnya) harus bisa diaudit atau dibuat terbuka kepada masyarakat," kata politikus Partai Golongan Karya itu. (utd)