Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, hujan pasir telah sampai di pos pengamatan gunung api yang ada di Banyuwangi. Selain itu, terjadi juga hujan abu tipis di beberapa wilayah Banyuwangi, diantaranya Kecamatan Wongsorejo, Kecamatan Kalipuro, dan Kecamatan Licin.
"Hujan pasir hitam di pos pengamatan sejak pukul 10.00 WIB. Aktivitas vulkanik Gunung Raung masih tinggi sampai sekarang. Terpantau ada asap putih-kelabu, tekanan lemah-sedang, dan erupsi berupa letusan abu serta lontaran material pijar yang disertai suara gemuruh," ujar Sutopo dalam keterangan tertulis yang diterima, Jumat (10/7).(Lihat Juga: BNPB: Gunung Raung Pernah Dua Kali Meletus Besar di Masa Lalu)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam radius 3 kilometer telah dinyatakan sebagai zona terlarang karena berbahaya bagi masyarakat terkena lava pijar," kata Sutopo. (Lihat Juga: Pemerintah Tutup 5 Bandara Akibat Debu Vulkanik Gunung Raung)
Pada 1944, aliran lava di dasar kawah keluar sejak Januari hingga November. Lalu, pada 1953 terjadi letusan pertama kali setinggi 6 kilometer pada Januari hingga Maret dengan abu menyebar dengan radius sampai 200 km. (Baca Juga: Sebaran Erupsi Gunung Raung Hingga ke Selatan Perairan Bali)
Letusan kedua kembali terjadi pada 1956 dengan ketinggian mencapai 12 kilometer pada 19 Februari disertai dengan dentuman selama empat jam. Abu menyebar sampai Bali dan Surabaya. Setelah itu, aktivitas fisik di Gunung Raung terus meningkat.
Tipe letusan Gunung Raung termasuk ke dalam jenis strombolian. Gunung yang termasuk jenis strombolian dikenal memiliki letusan yang mengeluarkan lava cair tipis, tekanan gas sedang, dan disertai material-material padat.
"Umumnya letusan dari gunung strombolian tidak terlalu kuat, namun bersifat terus menerus dan berlangsung lama. Tidak dapat diprediksi kapan erupsi berakhir," ujar Sutopo. (utd)