Saat dikonfirmasi soal kesiapannya jika benar-benar ditunjuk Jokowi, Moeldoko tidak mau berspekulasi. Ia menyebut, isu dirinya akan menggeser Tedjo sebagai gosip belaka.
"Kabar itu hanyalah berita burung di Tanah Abang. Saya sering masuk dalam pusaran isu. Tiga bulan lalu diisukan mendirikan partai politik. Sampai saat-saat terakhir sebagai perwira tinggi TNI, saya tidak mau bicara soal politik," ujar Moeldoko di kediamannya, Jakarta, Jumat (17/7) kemarin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suami dari Koesni Harningsih memaparkan, tugas koordinasi sebenarnya merupakan persoalan klasik yang selalu lalai diemban seorang pemimpin. "Itu poin yang sulit. Mudah diucapkan tapi sulit dilakukan," ucapnya.
"Bagaimana caranya, setelah semua bersepakat, kesepakatan itu dikawal, dilakukan apa tidak. Hampir secara umum di organisasi kita lemah dalam hal itu," tutur Moeldoko.
Soal reshuffle kabinet dan kemungkinannya menjadi menteri, Moeldoko menyerahkannya kepada Jokowi. "Sebagai prajurit, sepertinya tidak pas memberikan komentar tentang reshuffle karena itu sungguh tendensius," katanya.
Sebelumnya pria asal Kediri, Jawa Timur ini mengaku dua kali ditanyai Jokowi terkait rencana masa depannya usai menanggalkan baju tentaranya. Kepada RI-1, Moeldoko mengatakan sudah mendapatkan tawaran untuk menjadi pengajar dari beberapa universitas negeri. (gen)