Ia mengaku menyesal karena kerusuhan terjadi di hari yang istimewa bagi umat muslim.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Lenis, selama ini di Papua tidak pernah terjadi gejolak masalah agama. Pada saat syukuran misalnya, umat Islam dan Kristen justru berdiri dan berdoa bersama-sama.
"Kalau di sana perang suku biasa. Pengalaman khusus di Tolikara, waktu perang suku, gereja juga dibakar, pendeta juga dibunuh. Kalau emosi sering terjadi itu," ujar Lenis.
Karenanya, Lenis menyimpulkan tidak ada motif sentimen politik, agama, atau lainnya di belakang kejadian ini.
Menurut Lenis, kerusuhan terjadi murni karena kesalahpahaman yang terjadi antara kedua umat yang berbeda agama. (Baca juga : Mediasi Kerusuhan Tolikara, Kapolda-Pangdam Turun ke Lokasi)
"Jadi, ada kongres pemuda GIDI, lalu bersamaan masjid juga dekat. Jadi, didengarlah sinode yang lagi kongres dan merasa terganggu. Seharusnya itu gereja dan tokoh agama duduk bersama difasilitasi supaya tidak terjadi masalah," katanya. (meg)