Petisi tersebut dibuat oleh Maimon Herawati melalui situs change.org pada Sabtu, 18 Juli 2015. Maimon adalah warga negara Indonesia yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Newcastle, Inggris. Hingga Minggu (19/7) pukul 12.30 WIB, jumlah orang yang mendukung petisi tersebut mencapai 1.843 orang.
Dalam petisi tersebut Maimon menyatakan pembakaran masjid, kios, dan rumah di Tolikara, Papua adalah ancaman terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan toleransi antar umat beragama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menuntut pemerintah dan aparat terkait untuk segera mencokok pelaku penghangusan masjid, 38 rumah, dan 63 kios, serta penyebab 153 jiwa mengungsi. Maimon menyatakan korban bukan hanya Muslim, tetapi juga Nasrani asli Papua.
Maimon meminta pemerintah tegas menyebut tindakan itu sebagai tindakan terror dan tidak ada kaitannya dengan nilai agama manapun.
“Teror adalah terror dan tidak ada satu agama pun yang mengarahkan pengikutnya menjadi teroris, yang mengancam kedamaian hidup yang lain,” tulisnya.
Sebelumnya, Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLII) Ronny Mandang berpendapat pelaku kerusuhan yang terjadi di Kabupaten Tolikara, Papua, pada Jumat (17/7) harus ditindak tegas.
"Kami minta penegak hukum menangani kasus ini dengan adil. Siapapun pelakunya, baik itu Sinode Gereja Injili di Indonesia (GIDI) atau bukan, kalau terbukti bersalah, harus dihukum," kata Ronny saat konferensi pers di gedung Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Jakarta Pusat, Sabtu (18/7).
Lebih lanjut, Z Towolom, salah satu warga kabupaten Tolikara, Papua, mengatakan bahwa selama ini belum pernah terjadi konflik agama di kampung halamannya. Towolom berpendapat, toleransi antara umat beragama di Tolikara terhitung bagus. Ia mengatakan tidak pernah terjadi gesekan atas nama agama.
"Umat Islam dan umat Kristen di Tolikara baik-baik saja," kata Towolom saat ditemui di gedung Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Jakarta Pusat, Sabtu (18/7).
"Saya rasa musala tersebut terbakar secara tidak sengaja. Kebetulan musala itu lokasinya di belakang kios," katanya. Menurutnya, sasaran utama para pelaku merupakan kios, bukan musala. (gir/gir)