Horta menuturkan, pihak luar sebaiknya menunjukan kebijaksanaan dan sensitifitas dalam memahami kesulitan yang dihadapi negara-negara yang sedang berkonflik internal.
"Dalam pandangan saya, Indonesia memiliki keinginan kuat dan visi dalam menangani banyak permasalahan masa lalu, bahkan sukses memecahkan masalah yang lebih besar, yakni Aceh," ujar Horta di Kantor Wakil Presiden, Jakarta Pusat, Selasa (28/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu tidak hanya terjadi di Indonesia. Jika kalian pergi ke India dan Brasil, kalian akan menemukan ketidakseimbangan ini. Jadi saya percaya dengan kepemimpinan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, keduanya bisa memecahkan masalah di Papua Barat," kata dia.
Dalam upaya pengamanan, petugas menembak tiga orang pelaku penyerangan yang tidak mengindahkan peringatan petugas. Puluhan saksi telah diperiksa terkait kebakaran dan penembakan.
Suasana di Tolikara saat ini telah kondusif. Rabu (22/7), Pendeta Nayus Wenda (sebelumnya disebut Yunus) dari Gereja Injili di Indonesia dan Ustaz Haji Ali Mukhtar mewakili muslim saling bersalaman dan berpelukan di lapangan Koramil yang menjadi lokasi salat Id saat kerusuhan pecah. Pendeta Nayus meminta maaf karena telah menyakiti hati muslim. Dia dan Ustaz Ali berdoa agar kerusuhan tak terjadi lagi di Tolikara.
Sementara itu dua orang tersangka pemicu kerusuhan sudah ditangkap. Mereka adalah Arianto Kogoya (26) dan Jundi Wanimbo (31). Arianto adalah pegawai Bank Papua di Tolikara, sedangkan Jundi ialah pegawai negeri sipil Bagian Keuangan Pemerintah Daerah. Keduanya, menurut Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, merupakan jemaat GIDI. (rdk)