"Jangan terlalu fokus pada bagian barat untuk kekeringan kebakaran hutan. Jangan lupa papua ada aset internasional. Gunung Cartenz esnya sudah mulai habis," kata Noak ketika ditemui di Jakarta, Rabu (29/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bencana ini diperkirakan akan melanda Lanny Jaya dalam waktu dua bulan. Baru pada Agustus 2015 nanti bencana diperkirakan berakhir.
"Biasanya dengan memanaskan perairan di Samudera Pasifik maka di perairan Papua menjadi dingin sehingga terjadi hujan salju (embun beku)," kata Sutopo.
Data dari BNPB menyebutkan, tidak hanya umbi-umbian dan hasil kebun yang tidak bisa dipanen, cuaca dingin juga menyebabkan ternak mati dan sebagian warga sakit.
Bahkan, cuaca dingin ini juga menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Lanny Jaya ada 11 orang meninggal dunia yang terdiri dari lima balita, dua anak-anak dan empat orang dewasa.
Jatuhnya korban jiwa tersebut disebabkan oleh lokasi yang berada di ketinggian 2.700 meter di atas permukaan laut mengalami keterbatasan kebutuhan dasar seperti permakanan, kebutuhan bayi/anak, obat-obatan dan radio komunikasi.
Untuk mengatasi hal tersebut, BNPB berkoordinasi dengan Kementerian Sosial, BPBD Papua dan pemerintah daerah setempat untuk mendistribusikan bantuan. Bantuan makanan sebanyak 13,4 ton yang ada di BPBD Papua dan 15 ton beras dikirim ke Nduga, Lanny Jaya, dan Puncak pada 17-19 Juli 2015. Selain itu, BNPB juga menyiapkan dana siap pakai sebesar Rp 250 juta untuk pengiriman logistik.
Beberapa rincian banguan yang diberikan Kementerian Sosial antara lain 15 ton beras, 600 dus mi instan, 600 paket lauk, 600 paket makanan anak-anak, dan 300 lembar selimut. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa juga akan mencari tahu bibit tanaman apa yang tetap bisa tumbuh di daerah dengan cuaca dingin ekstrem seperti di Lanny Jaya. (sur)