“Kita butuh strategi sistematis menghadapi ISIS,” kata staf Densus 88, Arif Mahfudhi, seperti dilansir situs resmi NU, nu.or.id, Senin (3/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk mencegah makin meluasnya paham radikal tersebut, Densus menyatakan pentingnya pemaparan informasi lewat media ataupun seminar sebagai konter informasi kelompok-kelompok radikal itu. (Baca juga: ISIS di Indonesia Juga Pakai Media Sosial)
Menurut Arif, kekuatan NU yang berbasis pada Islam moderat dapat mencegah masyarakat dari memahami Islam secara negatif.
Secara terpisah, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme mengingatkan betapa internet menjadi alat ampuh ISIS dalam menggaet simpatisan dan menyebarkan ajarannya hingga ke pelosok-pelosok Indonesia.
“Tak ada batas geografi sekarang. ISIS bisa menjangkau daerah untuk menarik para generasi muda tanpa kecuali,” kata Juru Bicara BNPT Irfan Idris beberapa waktu lalu.
Internet yang merupakan bagian dari kemajuan teknologi yang efektif menghilangkan sekat antarnegara, kini menjadi senjata andalan ISIS untuk merekrut anggota. (Baca: Lewat Media Online, ISIS Merekrut Lebih Cepat)
ISIS bahkan memiliki majalah dalam bahasa Inggris dan Perancis. Majalah-majalah itu lantas diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk Indonesia, yang lalu dipublikasikan ulang oleh berbagai media radikal lokal.
Oleh sebab itu BNPT menekankan pentingnya kontranarasi untuk melawan propaganda ISIS. Bila tidak, mereka yang memiliki akar radikal di hati akan mudah terbawa angin yang diembuskan ISIS
Hingga saat ini BNPT memperkirakan sudah sekitar 600 warga negara Indonesia yang bergabung dengan ISIS. Jumlah tersebut, menurut Deputi Penindakan BNPT Inspektur Jenderal Arief Dharmawan, belum termasuk WNI terlibat ISIS yang sudah berada di Suriah dan tak terpantau aktivitasnya oleh pemerintah RI. (agk)