"Akhir bulan ini kami limpahkan ke Pengadilan kasus IUD Kit itu," ujar Kepala Sub Direktorat Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Sarjono Turin di Kantor Kejagung, Jumat (7/8).
Sejak kemarin, satgasus Kejagung diketahui masih melengkapi daftar tahanan dalam perkara korupsi pengadaan alat kontrasepsi setelah menahan Direktur CV Bulao Kencana Mukti, Haruan Suarsono. Sebelumnya, Kejagung telah menahan lima tersangka terlebih dahulu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Haluan ditahan bersama empat tersangka di Rumah Tahanan Negara Salemba Cabang Kejaksaan Agung. Sementara tersangka atas nama Wiwit ditahan di Rumah Tahanan Wanita Pondok Bambu, Jakarta Timur.
Potensi Korupsi Alat Kesehatan
Menurut Turin, korupsi pengadaan alat kontrasepsi di BKKBN dapat terjadi di instansi lain. Ia mengatakan potensi korupsi besar terjadi pada proyek pengadaan alat kesehatan di Indonesia.
"Semua pengadaan alat kesehatan di Indonesia ada kemungkinan penyimpangan," katanya.
Pada pengadaan alat kontrasepsi di BKKBN, diduga terjadi manipulasi pengadaan barang serta ketidaksesuaian spesifikasi dan standar kesehatan sebagaimana tertuang dalam kontrak.
Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Tony Spontana mengungkapkan, dari praktik ini negara berpotensi mengalami kerugian hingga Rp 27 miliar. Pun Nilai kerugian diperoleh setelah Kejagung berkoordinasi dengan tim audit dari Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan. (sip)