Aspek pertama adalah mengenai penggunaan ponsel. Badrodin mengatakan bahwa para anggota Polri kadang kala terlalu fokus pada ponselnya hingga melupakan tugasnya menjaga TPS.
"Sumber kelengahan adalah bermain permainan (game) dalam ponsel," kata Badrodin saat ditemui di Jakarta, Selasa (11/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penjagaan harus dilakukan setiap saat dan pengecekan TPS tidak boleh berhenti. Maka dari itu, Badrodin meminta agar rencana pengamanan di tiap tahapan dibuat sebaik mungkin sehingga anggota Polri tidak memiliki waktu senggang untuk bermain ponsel.
Pengamanan terhadap kotak suara pun harus diperhatikan. Kotak suara yang terletak di TPS harus tetap tersegel baik saat tiba di TPS ataupun dibawa dari TPS.
Jika pengamanan semacam itu tidak dilakukan, potensi kecurangan yang berakibat penggelembungan suara bisa terjadi. Seandainya penggelembungan terjadi dan ketahuan maka konsekuensinya adalah pilkada harus diulang dan Polri harus kerja dua kali untuk mengamankan.
"Jika pengamanan tak ketat pilkada bisa diulang dan artinya kita kerja dua kali. Lebih bagus kan kerja sekali saja," kata Badrodin.
Selain itu mantan Kapolda Jawa Timur tersebut ingin memastikan petugas di lapangan memiliki kontak yang bisa dihubungi agar koordinasi dan komunikasi bisa berjalan dengan baik. (hel)