Dalam inspeksi tersebut terkuak sejumlah alutsista tidak dapat berfungsi maksimal karena mengalami kerusakan dan tidak dilengkapi dengan persenjataan yang memadai. Selain itu, beberapa proyek pengadaan alutsista juga belum terlaksana seluruhnya.
Pilihan Redaksi |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami juga kekurangan 11 garasi. Nanti akan dibangun di kompi markas. Anggarannya kami ajukan di RKA (Rencana Kerja Anggaran) tahun 2016," ucap Andre.
Kerusakan dan kekurangan jumlah sejumlah jenis peralatan tempur juga terjadi pada Kopassus dan Yonif 201 Jaya Yudha.
Menyikapi hal ini, Ryamizard meminta para prajurit tidak hanya berdiam menanti datangnya alutsista baru dan dana perawatan tapi berinovasi untuk menghindari pengeluaran anggaran. (Baca: Menhan: Kekuatan Negara Tak Hanya Alutsista, Tapi Manusianya)
"Di bawah memang banyak kesulitan yang dihadapi. Kita beli yang triliunan, kenapa tidak membeli yang Rp 200 juta atau Rp 400 juta saja. Kalau seperti itu, semua akan saya bantu," ungkapnya.
Ditemui pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Perencanaan Pertahanan Kemhan, Marsda Muhammad Syaugi, mengatakan pemerintah belum menentukan jumlah anggaran pertahanan untuk tahun 2016. (Baca: Jokowi Perintahkan Panglima TNI Rombak Manajemen Alutsista)
"Saat ini belum diputuskan oleh pemerintah, anggarannya berapa. Kami ingin membeli secepatnya. Penetapan dari Bappenas belum keluar," ucapnya.
Syaugi berkata, melemahnya rupiah atas dollar amerika serikat sangat mempengaruhi anggaran pertahanan tahun depan. "Sedang dihitung, dollar berapa dan berapa kemampuan negara," tuturnya. (obs)