Menurutnya, pergantian ini menunjukkan kesan istana melindungi mafia korupsi. Karena itu, Anang harus menunjukkan bahwa asumsi itu tak benar dengan cara bekerja lebih baik atau sama baiknya dengan Budi saat menjabat sebagai Kepala Bareskrim.
"Kalau maju semua, (dugaan negatif) akan tertangkis. Oh, ternyata pemerintah bukan pelindung mafia," kata Desmond kepada CNN Indonesia melalui sambungan telepon, kemarin. (Baca juga: Komjen Budi Waseso: Saya Dulu Dikenal Bergajul (5))
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau saya menentang pemerintahan, nanti saya akan dibilang karena saya anak buahnya Pak Prabowo (Subianto). Tapi rasional saja, ada apa dengan bangsa ini saat mafia korupsi dilindungi?" kata Desmond.
"Yang pertama adalah Kapolri tidak tegas. Yang kedua Kapolri kesannya melakukan kebohongan dengan bilang ada Wanjak (Dewan Jabatan dan Kepangkatan)," kata Desmond. Dia meyakini, pergantian ini adalah bentuk intervensi dari pemerintah. (Baca juga: Komjen Budi Waseso: Ada Tiga Kelompok di Bareskrim (4))
Sementara itu, Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) menilai Anang tidak akan kesulitan dalam menjalankan tugasnya.
Komisioner M Nasser kepada CNN Indonesia, Minggu (6/9), mengatakan ada tekanan eksternal yang membuat Budi harus bertukar posisi dengan Anang. Tanpa merinci, dia mengatakan tekanan tersebut berasal "dari atas." Hal ini, menurutnya, berdampak buruk bagi kepolisian.
Catatan khusus Kompolnas yang harus diperhatikan oleh Anang, adalah kelanjutan pengusutan kasus-kasus korupsi besar yang saat ini sedang ditangani Bareskrim. "Itu harus jalan terus, jangan sampai dihentikan," kata Nasser.
Serah terima jabatan Kepala Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia digelar hari ini. Komisaris Jenderal Anang Iskandar yang sebelumnya bertugas sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional akan resmi menggantikan Komisaris Jenderal Budi Waseso sebagai Kabareskrim Polri. (gir/gir)