“Itu bukan acara resmi (rombongan DPR). Namun sebagai pimpinan DPR, untuk menghadiri konferensi pers (Trump), walau tak resmi, nama dia sebagai pimpinan DPR melekat. Kedatangannya (menemui Trump) memberikan efek sangat luas. Banyak media menyoroti dampak negatifnya,” kata Agus di Gedung Nusantara III DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (7/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Siang ini sejumlah anggota DPR akan melaporkan pertemuan rombongan Setya dan Trump yang mereka anggap tak etis ke Mahkamah Kehormatan Dewan. (Baca juga: Prabowo Akan Panggil Fadli Zon soal Pertemuan dengan Trump)
“Nantinya MKD bakal bersidang untuk memproses seluruh laporan yang masuk,” ujar Agus. Ia sekaligus mengingatkan MKD untuk bekerja independen dan transparan soal laporan apapun yang masuk terkait anggota DPR.
Apabila proses di MKD telah selesai dan pihak terlapor terbukti melakukan pelanggaran ringan atau berat, MKD akan melaporkannya ke forum pimpinan DPR untuk kemudian dibawa ke sidang paripurna DPR.
Sebelumnya, Fadli Zon mengatakan diperkenalkannya Setya Novanto oleh Trump ke hadapan publik AS di akhir konferensi pers, merupakan tindakan spontan yang merupakan improvisasi Trump selaku tuan rumah. Hal itu, kata Fadli, bukan berarti rombongan Ketua DPR mendukung Trump selaku bakal kandidat Presiden AS.
“Hadirin, ini adalah orang yang sangat luar biasa, Ketua DPR dari Indonesia, Setya Novanto. Salah atu orang yang paling berpengaruh (di Indonesia), dan dia ke sini untuk bertemu dengan saya,” kata Trump saat itu dalam rekaman video yang beredar di YouTube.
Trump lantas melanjutkan ucapannya sambil berbicara kepada Setnov, “Kami akan melakukan hal yang luar biasa untuk AS, benar kan?”
Dia juga bertanya kepada Setnov apakah warga Indonesia menyukainya, yang kemudian sang Ketua DPR, “Ya, sangat.”
Sebelum memperkenalkan Setya di akhir jumpa persnya, Trump bertemu secara informal selama 30 menit dengan rombongan Setya di kantornya untuk bicara soal ekonomi dan investasi Trump di Indonesia. (agk)