logo CNN Indonesia

Keluarga Rian Curiga Pelaku Pembunuhan Lebih Dari Satu

, CNN Indonesia
Keluarga Rian Curiga Pelaku Pembunuhan Lebih Dari Satu
Jakarta, CNN Indonesia -- ‎Pengusutan kasus pembunuhan Asisten Presiden Direktur XL, Hayriantira, masih terus berlanjut. Tim penasihat hukum ibu kandung Hayriantira atau Rian, Rukmila, menemukan sejumlah fakta baru. Koordinator tim, Dwiyanto Prihartono, menduga Rian dihabisi bukan oleh pembunuh tunggal.

"Terlalu banyak petunjuk yang kita dapatkan. Pembunuhan ini bisa jadi bukan dilakukan oleh pembunuh tunggal," kata Dwi di Raden Saleh, Jakarta, Kamis (10/9).

Sebelumnya, Rian dilaporkan hilang pada April 2015. Sejak November 2014, pihak keluarga tidak mengetahui kabarnya. Rian ternyata menjadi korban pembunuhan yang dilakukan oleh AW, teman dekatnya, pada Kamis (30/10/2014) di Hotel Cipaganti, Garut, Jawa Barat.

Kepada Rukmila, AW mengaku membunuh Rian. AW membunuhnya karena merasa tersinggung‎ disebut penyuka sesama jenis dan memiliki kemaluan kecil setelah menolak berhubungan badan.

‎"Model sekarang dalam pembunuhan terhadap perempuan, selalu dikatakan, pembunuh merasa tersinggung. Dalam kasus Rian, dihina karena homo, diajak hubungan intim tidak mau. Tidak sesederhana itu," kata Dwi.

AW berusaha menghilangkan jejak dengan mengambil telepon genggam korban usai membunuh. Rivai Kusumanegara, salah satu kuasa hukum Rukmila, menyampaikan bahwa keluarga korban masih menerima pesan dari nomor ponsel Rian, pasca pembunuhan.

Pada 4 November 2014, grup aplikasi Whatsapp keluarga menerima pesan dari Rian. Pesan itu seolah ingin menunjukkan bahwa kondisi Rian baik-baik saja. Dalam pesan itu, Rian juga dikabarkan telah menikah lagi, pindah agama, dan menitipkan anak-anaknya.

‎"Rian menunjukan putus hubungan dengan keluarga, mengecewakan keluarga karena pindah keyakinan, dan meninggalkan anak-anak. Ini dibuat agar keluarga tidak mencarinya," ujar Rivai.

Selain itu, AW juga mengambil barang berharga, termasuk mobil dan BPKP di showroom dengan surat kuasa palsu. Sejumlah informasi ini memperkuat dugaan bahwa motif pembunuhan Rian mengarah kepada pembunuhan berencana.

Dwi menyampaikan, saat ini proses perkara pembunuhan Rian memasuki tahap yang tepat. Polda Metro Jaya telah melimpahkan berkas perkara kepada Polres Garut sejak 28 Agustus 2015 lalu. Berkas tersebut menyangkut kasus pembunuhan berencana, pembunuhan dan pencurian dengan kekerasan.

Di lain pihak, Polda Metro Jaya telah memproses dan mengirimkan berkas perkara kepada Kejaksaan Negeri Depok pada 18 Agustus 2015, khusus perkara pemalsuan tanda tangan dengan perkara AW.

Tim penasihat hukum mewakili keluarga korban memberikan apresiasi kepada pihak kepolisian. Dengan begitu, kasus pembunuhan tidak menjadi bias ke arah pemalsuan saja.

Dwi mengatakan, pasal pembunuhan berencana (340 KUHP) dapat diterapkan. Beberapa fakta antara lain, penggunaan plat nomor mobil palsu B912 RYN, juga menggunakan nama palsu di hotel.

"Pembunuhan berencana tidak boleh lolos. Ganti plat nomor, masuk hotel tidak gunakan nama sesungguhnya," katanya.

Hal utama kasus yang menimpa Rian adalah pembunuhan, kata Dwi, bukan kasus sederhana dan tidak tereduksi sekadar kasus pemalsuan tanda tangan terkait penguasaan mobil milik Rian oleh tersangka AW.

Dwi mengatakan, dari beberapa informasi yang didapatkan timnya, masih banyak fakta yang belum terkuak. Berdasarkan hasil autopsi jenazah, kematian Rian belum dapat dipastikan waktunya. Selain itu, baju yang ditemukan di kamar sebagai barang bukti ternyata berbeda warna dengan baju perempuan yang datang bersama AW dan terekam CCTV.

Dwi curiga bahwa rusaknya sidik jari bukan karena air panas yang merendam korban. Sebab, suhu udara di Garut yang dingin membuat rendaman air panas cepat mendingin. Ia menduga sidik jari sudah rusak terlebih dahulu.

Di samping itu, keterangan yang diberikan tersangka berbeda dengan keterangan mantan suami dan mertua. Tersangka menyatakan bahwa sertifikat rumah yang ada di tangan korban sengaja diambil karena disuruh oleh mantan mertua korban.

Rivai, mengatakan bahwa hingga kini sertifikat asli tidak ditemukan. Menurutnya, sertifikat itu awalnya berada di tangan Rian. Tapi setelah korban dibunuh, sertifikat itu beralih ke pihak lain yang belum diketahui keberadaannya.‎

"Sertifikat menghilang bersamaan dengan pembunuhan, itu kecurigaan kami,"‎ katanya.

Sebelum menjalani sidang perceraian, korban mendapat kiriman SMS bernada ancaman dari seseorang yang tidak diketahui identitasnya.‎ Dalam SMS, korban diminta untuk menyerahkan surat sertifikat rumah. "Pembunuh lebih dari satu, yes, itu sudah mendekati keyakinan," katanya.

0 Komentar
Terpopuler
CNN Video